Kota Bogor

Prof Hadi Susilo Arifin Paparkan Strategi dan Penerapan Agromaritim 4.0 Menuju Kemandirian Pangan Nasional

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Prof Hadi Susilo Arifin, Guru Besar IPB University bidang Ekologi Lanskap dan Manajemen Lingkungan memaparkan terkait strategi kemandirian pangan lokal untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Tidak hanya itu, ia berharap bahwa mahasiswa pascasarjana IPB University memiliki perspektif mata elang. Menurutnya, sebagai generasi milenial, para mahasiswa harus memandang sejauh mungkin terkait potensi pangan Indonesia.

Dosen IPB University itu menyebut, cara pandang tersebut biasanya diwujudkan dalam road map. Menurutnya, pangan lokal harus diasumsikan sebagai pangan yang dihasilkan di sekitar masyarakat sendiri.

Prof Hadi menyebut, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, saat Indonesia mencapai kemerdekaan 100 tahun atau pada tahun 2045 mendatang, penduduk Indonesia akan mencapai sekitar 319 juta jiwa. Dengan pesatnya pertumbuhan penduduk ini berimplikasi pada meningkatkannya kebutuhan primer. Kebutuhan primer tersebut tidak hanya bersumber dari tanaman namun juga ternak.

Baca juga  Guru Besar IPB University Jelaskan Implementasi Artificial Intelligence dan Blockchain pada Sistem Rantai Pasok Pertanian

“Peningkatan populasi, perubahan pola hidup, kebutuhan produksi yang ramah lingkungan, adanya tranparansi dan keterlacakan pada setiap sistem pertanian, serta adanya perdagangan bebas atau global pada akhirnya konsumen akan menentukan aturan-aturan atau regulasi kepada negara produsen,” ujar Prof Hadi Susilo Arifin dalam Lingkungan Hidup dan Agromaritim Talk Webinar Agromaritim 4.0, Sabtu (30/10/2021).

Bahkan, katanya, masyarakat kota saat ini enggan makan sembarangan dan semakin sadar tentang gaya hidup sehat. Dengan demikian, apabila melihat situasi masa depan ketahanan pangan Indonesia, dinilai masih rentan terhadap kekurangan pangan.

Prof Hadi juga menyoroti bahwa kemandirian pangan seharusnya berasal produk lokal sesuai dengan potensi sumberdaya alamnya. Tidak hanya itu, produk pangan ini juga mudah diakses oleh semua kalangan masyarakat.

Baca juga  Revolusi Meja Makan untuk Ketahanan Pangan

“Kemandirian pangan berarti tidak tergiur oleh pangan impor. Sayangnya, generasi muda mudah tergiur dengan franchise impor,” kata Prof Hadi Susilo Arifin, pakar ekologi lanskap dari IPB University.

Dengan merujuk pada Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, Sistem pangan nasional memiliki kedaulatan pangan dan kemandirian pangan sebagai pondasinya. Menurutnya, strategi pertama untuk mewujudkan sistem pangan nasional yang berkelanjutan tersebut yakni dengan adanya gerakan menuju transformasi pangan masa depan.

Ia mengambil pelajaran dari National University of Singapore terkait program SG Green Plan: 2030 movement yakni Singapura harus menyediakan 20 persen pangannya dari produk dalam negeri. Dari pembelajaran ini, strategi kedua adalah mendukung pangan berbasis kearifan lokal seperti sagu.

Baca juga  Guru Besar IPB University Bahas Pentingnya Pendekatan Bioinformatika di Era Big Data

“Ragam produk pertanian Indonesia berbasis kearifan lokal harus dipertahankan. Ini bisa melalui strategi inovatif pada proses pasca panen, logistik, pemrosesan, pengiriman, dan kampanye. Seperti Jepang yang melakukan branding  tanaman iles-iles sebagai Konyaku yang bernilai tambah tinggi,” tambah Prof Hadi Susilo Arifin.

Dosen IPB University itu juga menyebut, perlu optimalisasi lahan kering yang tersebar di beberapa wilayah timur Indonesia. Tidak hanya itu, dalam penguatan ketahanan pangan, perlu didukung sistem agrologistik yang bagus mulai dari pascapanen sampai industri.

“Kita perlu extension service terkait penyuluhan internet of food and farm 2020. Penyuluhan terkait smart agriculture ini dapat berupa penggunaan robot dalam proses pengolahan pangan,” pungkas Prof Hadi. [] Hari

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terpopuler

To Top