Kab. Bogor

Prof Damayanti: Koperasi Petani Faktor Kunci Sistem Pangan Nasional

BOGOR-KITA.com, DRAMAGA – Salah satu faktor kunci sistem pangan nasional adalah kelembagaan di tingkat petani seperti kelompok petani atau koperasi.

Hal ini dikemukakan Prof Dr Damayanti Buchori, Guru Besar IPB University dari Fakultas Pertanian dalam diskusi daring  yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) IPB University berkolaborasi dengan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) bertajuk “Menata Jalan Food System Indonesia,” Selasa (7/10/2020).

Dalam rilis dari IPB University kepada BOGOR-KITA.com, Kamis (8/10/2020), Prof Damayanti mengatakan, permasalahan sistem pangan di bagian hulu saat ini adalah ketika ketidakpastian dari proses alam berusaha dikontrol oleh sistem manusia.

Kemudian mekanisme industri seperti penggunaan teknologi yang ramah lingkungan atau perubahan tata ruang yang tidak terkontrol, hingga kebijakan yang tidak berpihak pada petani kecil dan gurem. Intensifikasi pertanian tersebut menurut Prof Damayanti akan menimbulkan bencana seperti erosi tanah atau efek gas rumah kaca.

Baca juga  Tips Rumah Sehat Bebas DBD di Tengah Pandemi

Salah satu faktor kuncuinya adalah koperasi petani. “Melalui gerakan sosial berupa collective action, akses terhadap pengetahuan, lahan, kapital, hingga kekuatan bernegosiasi bagi kepentingan petani akan mudah dicapai. Tentunya ada strategi jitu dan ideologi yang diperlukan di dalamnya,” kata Prof Damayanti.

Bagaimana membangun ideologi itu? “Ya dengan melalui pertemuan-pertemuan di kelompok. Itu akan sangat menjadi suatu kekuatan yang penting,” ungkap dosen IPB University dari Departemen Proteksi Tanaman ini.
Ia juga turut mengkritik mengenai implementasi  kebijakan tata ruang dan kebijakan yang mengenyampingkan ilmu pengetahuan hingga program pemberdayaan yang tidak memberdayakan. Program tersebut malah akan membuat petani ketergantungan pada sumber-sumber eksternal.

Sistem pertanian tradisional menurutnya merupakan sistem pangan ideal yang menjunjung prinsip keberlanjutan.

Baca juga  Polres Bogor dan GP Ansor Bedah Rumah Warga Kampung Dayeuh, Cileungsi

Misalnya melalui sistem bera serta adanya rasa hormat terhadap alam. Ia juga menyebutkan perlunya pengembangan sistem agroekologi yang menghasilkan crop health dengan memperkuat below ground dan above ground diversity serta pengembangan ecological engineering.

“Untuk menjalankan agroekologi itu diperlukan adanya perubahan paradigma. Paradigmanya adalah bagaimana kita melihat konteks lanskap,” ujarnya.

Dalam rangkaian acara tersebut, Dr Bayu Krisnamurti, dosen IPB University dari Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) turut berkomentar. Menurutnya porsi masyarakat dalam sistem pangan lebih besar daripada pemerintah sendiri. Sehingga menggantungkan tangan pada pemerintah bukan merupakan sesuatu hal yang dinilai sangat penting. Yang perlu diperhatikan adalah cara berpikir dan pendekatan non komoditi.

Baca juga  HJB ke-539, Ade Yasin Ajak Masyarakat Bangkit Bersama

“Lagi-lagi makanya saya sangat mendukung sekali sistem pangan karena tidak bisa lagi hanya single komoditi, tidak bisa hanya satu aspek saja, semua harus kita sertakan,” tuturnya.

Selain itu, metadata menunjukkan bahwa masih ada ketidakseimbangan dalam pembahasan food system yang melulu mengenai produktivitas.

Sehingga pembahasan lain seperti food waste ataupun konsumen dikesampingkan. Adapun ia berharap akan adanya asosisasi konsumen maupun pengembangan sistem pangan yang berkelanjutan agar sistem pangan nasional yang berdaulat dapat tercapai. [] Admin

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top