Kab. Bogor

Pendiri TBM Lentera Pustaka Bogor Terpilih “Guardian 31 Wonderful People” 2021

Syarifudin Yunus

BOGOR-KITA.com, TAMANSARI – Sebagai wujud komitmen membantu masyarakat Indonesia, Guardian Indonesia memperingati ulang tahun ke-31 tahun 2021 dengan memberikan apresiasi dan penghargaan bertajuk “Guardian 31 Wondeful People”. Apresasi ini diberikan kepada 31 orang yang dianggap luar biasa dalam memberi inspirasi dan kontribusi nyata kepada masyarakat Indonesia, seperti di bidang medis, animal rescue, pegiat lingkungan, siswa berprestasi, pendiri taman bacaan, dan lain-lain.

Setelah melalui pertimbangan panitia, Syarifudin Yunus selaku Pendiri TBM Lentera Pustaka Bogor pun terpilih sebagai salah satu penerima penghargaan “”Guardian 31 Wonderful People” dari Guardian Indonesia.

Terpilihnya Syarifudin Yunus didasari pada inisiatif dan kontribusinya dalam mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di Desa Sukaluyu kaki Gunung Salak Bogor pada tahun 2017 untuk membangun aktivitas giat membaca anak-anak dari kalangan tidak mampu dengan angka putus sekolah tergolong tinggi, mencapai 81%. Selain menjadi dosen di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Indraprasta PGRI, Syarifudin Yunus yang bertempat tinggal di Jakarta setiap hari Minggu dapat ke Bogor untuk membimbing anak-anak yang membaca dan kaum ibu buta huruf untuk belajar baca tulis. Semua dilakukannya dengan sepenuh hati untuk meningkatkan partisipasi pendidikan dan gerakan literasi masyarakat di Kabupaten Bogor.

Guardian Indonesia sebagai perusahaan yang melayani kebutuhan kesehatan dan kecantikan masyarakat Indonesia merasa terpanggil untuk mendukung 31 orang yang luar biasa untuk terus berkiprah dan berkontribusi nyata kepada masyarakat Indonesia sesuai dengan bidangnya. Agar lebih dikenal lebih luas oleh masyarakat Indonesia, di samping berbagi inspirasi yang positif.

Baca juga  Dilarang Banyak Pikir Banyak Omong, Mengapa?

Apresiasi sebagai “31 Wonderful People” dari Guardian Indonesia ini pun kian memberi energi kepada Syarifudin Yunus untuk terus menjalankan program-program yang telah dirintis bersama TBM Lentera Pustaka. Seperti Taman BAcaan (TABA) yang kini memiliki 168 anak pembaca aktif yang terbiasa membaca 5-10 buku per minggu. Selain itu, TBM Lentera Pustaka pun menjalankan program lainnya seperti 1) Gerakan BERantas BUta aksaRA (Geberbura) dengan 9 warga belajar, 2) Kelas PRAsekolah (Kepra) dengan 21 anak, 3) YAtim BInaan (Yabi) dengan 16 anak yatim, 4) JOMpo BInaan (Jombi) dengan 8 lansia, 5) Koperasi Lentera dengan 20 anggota, 6) RAjin menaBUng (RABU), 7) DONasi BUKu, dan 8) LITerasi DIGital, dan 9) Difabel dengan 3 anak.

Terpilihnya Pendiri TBM Lentera Pustaka dalam “31 Wonderful People” pun menegaskan penghargaan yang luar biasa untuk taman bacaan dan gerakan literasi di Indonesia. Karena selama ini, taman bacaan dianggap “jalan sunyi” kebaikan yang tidak banyak dilakoni banyak orang.

Sharing is caring. Apresiasi ini adalah bukti proses kebaikan yang dijalani tidak akan pernah mengkhianati hasil. Selagi bermanfaat untuk orang lain, maka kerjakanlah. Hingga waktu yang akan membuktikan. Agar tradisi baca dan gerakan literasi tetap berdiri tegak di bumi Indonesia sekalipun di tengah gempuran era digital.

Baca juga  Di Sini Jual Ikan, Tugas Orang Lain Itu Mengganggu

Profil Syarifudin Yunus

Syarifudin Yunus, lebih akrab dipanggil Syarif adalah Pendiri dan Kepala Program Taman Bacaan Masyarakat(TBM) Lentera Pustaka. Dia salah satu pegiat literasi dari Bogor yang giat menyuarakan pentingnya gerakan literasi di masyarakat. Sebagai upaya meredam gempuran era digital yang telah kebablasan. Ayah dari tiga anak yang berprofesi sebagai Dosen Universitas Indraprasta PGRI ini sangat peduli terhadap upaya meningkatkan tradisi baca dan budaya literasi anak-anak usia sekolah khususnya di masyarakat yang tidak mampu. Maka di tahun 2017, ia mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di Desa Sukaluyu Kaki Gunung Salak Bogor.

Setiap seminggu sekali, dari Jakarta ke Bogor, ia membimbing 60 anak pembaca aktif membaca di taman bacaan, di samping mengajar 11 ibu-ibu buta aksara. Berbekal model “TBM Edutainment” yang digagasnya sendiri, pria 50 tahun ini bertekad menjadikan taman bacaan bukan hanya tempat membaca semata. Tapi menjadi sentra kegiatan masyarakat yang kreatif dan menyenangkan. Akrabkan anak dengan buku bacaan dan menjadikan taman bacaan sebagai “deshooling society” di masa pandemi covid-19 telah menjadi tekadnya. Karena itu, alumni UNJ peraih UNJ Award 2017 ini dengan penuh komitmen dan konsistensi terus-menerus menebar virus membaca buku bagi anak-anak kampung yang selama ini tidak memiliki akses bacaan. Dan kini, anak-anak Desa Sukaluyu di Kaki Gunung Salak mampu “melahap” 5-8 buku per minggu, di samping berusaha menemukan kreativitas diri dan potensi kearifan lokal daerahnya.

Baca juga  Perundungan di KPI, Akhlak Bobrok Bukti Bukan Ilusi

Pria yang sudah menulis 32 buku ini sangat yakin. Bahwa tradisi baca dapat menyelamatkan anak-anak Indonesia di masa depan. Bukan hanya karena pengetahuan yang bertambah, tapi membaca bisa menanamkan karakter dan nilai kearifan lokal yang kian langsa di era digital sekarang. Hingga suatu saat, akan tercipta masyarakat Indonesia yang literasi. Saking cintanya kepada taman bacana dan gerakan literasi, Syarif pun menjadi kandidat Doktor Taman Bacaan di Indonesia yang saat ini sedang menyelesaikan disertasi berjudul “Peningkatan Tata Kelola Taman Bacaan Melalui Model TBM Edutainment Sebagai Layanan Dasar Pendidikan Nonformal pada Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Di Kabupaten Bogor” dari Prodi Manajemen Pendidikan Pascasarjana Universitas Pakuan (Unpak).

“TBM Edutainment” merupakan konsep pengembangan taman bacaan yang berbasis edukasi dan hiburan, di antaranya: salam dan senam literasi, membaca bersuara, event bulanan, laboratorium baca, motivasi literasi, dan jajanan kampung gratis untuk anak-anak pembaca. [] Hari

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terpopuler

To Top