Ceceran material tambang dari truk di sekitar Rumpin dituding sebagai penyebab ISPA.

Penderita ISPA Dominasi Pasien di Puskesmas Jonggol 

BOGOR-KITA.com – Infeksi  Saluran Pernapasan (ISPA) saat ini mendominasi penyakit yang diderita oleh warga masyarakat di Kecamatan Jonggol.

Kepala Puskesmas Jonggol, dr Suparno, di ruang kerjanya, Kamis (23/5/2019) mengatakan, penyakit ISPA merupakan penyakit yang terjadi dari musim penghujan ke musim kemarau sehingga mengakibatkan gangguan pernapasan yang mengakibatkan seseorang mengalami, batuk, bersin-bersin dan demam. “ISPA juga merupakan penyakit yang mudah menular kepada orang yang daya tubuhnya rentan  penyakit,” tegasnya.

Untuk mengantisipasi seseorang terjangkit ISPA, kata Suparno, dibutuhkan pola hidup sehat dan menjaga kesehatan tubuh dan lingkungan bersih. “Kami berharap kepada masyarakat untuk menjaga pola hidup bersi, sehat agar terhindar dari serangan penyakit, ” pungkasnya.

Tak hanya di Jonggol, ISPA juga masih menjadi ancaman bagi warga di kawasan tambang. Jumlah penderita ISPA di daerah ini, dalam kurun waktu dua tahun terakhir (semester pertama 2017-2018 Januari-Juni) mencapai 12.067 orang.

Secara spesifik, berdasarkan data yang didapat pada semester pertama tahun 2018, warga Kecamatan Rumpin yang terjangkit ISPA sebanyak 2.900 orang atau 5,9 persen, tahun sebelumnya 3.767 orang atau 7,69 persen.

Untuk Kecamatan Gunung Sindur semester pertama 2018 sebanyak 2.131 orang atau sekitar 2,36 persen penderita ISPA, tahun sebelumnya 1.843 orang atau 2,04 persen.

Di Kecamatan Parung Panjang semester peratama 2018, warga menderita ISPA sebanyak  79 orang atau 0,08 persen, tahun sebelumnya sebenyak 1.347 orang atau 1,38 persen.

“Tapi data Ispa itu harus diklarifikasi. Dan yang mendata juga harus tahu persis dan ahli diagnosa Ispa. Kompetensi ini ada di orang kesehatan dalam hal ini puskesmas. Jadi saya harus mendapatkan data real dulu, karena mereka belum memberikan laporan ke saya,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Tri Wahyu Harini.

Menurutnya, korban Ispa juga harus dilihat per periodenya. Artinya, kapan dan tahun berapa itu menyerang. Meski begitu, ia tak memungkiri debu di daerah pertambangan dapat menyebabkan Ispa. “Itu (debu) hal utama untuk terjadinya ISPA. Tapi nanti saya minta dulu data realnya ke puskesmas,” tegas Tri Wahyu Harini. [] Admin/Pkr



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *