Kab. Bogor

Mengapa Remaja Gabung Gangster? Ini Penjelasan dan Solusi dari Psikolog

Ilustrasi Tawuran/Istimewa

BOGOR-KITA.com, PARUNG  –  Banyaknya remaja yang bergabung ke dalam kelompok gangster membuat sejumlah pihak prihatin. Menurut analisis psikolog, ada beberapa  alasan remaja bergabung dengan gangster.

“Ada alasan alasan eksternal atau alasan dari luar diri. Adapula alasan internal dari diri  dan kondisi pribadi masing – masing remaja tersebut,” ungkap Retno Lelyani Dewi, Kepala Biro Psikologi dari Rumah Cinta, di Bogor, Sabtu (1/10/2022).

Ia menjelaskan, dari alasan eksternal, remaja biasanya ingin masuk ke geng karena ada kebutuhan untuk diakui. Yaitu diakui sebagai laki – laki yang hebat. Dan remaja merasa dengan masuk ke geng motor, bisa  membuktikan dirinya hebat.

“Alasan eksternal yang kedua adalah kebutuhan remaja untuk bergaul atau bersosialiasi. Geng motor ini dianggap sebagai kelompok hebat,  ditakuti. Maka para remaja akan berusaha masuk ke kelompok geng motor dalam rangka bergaul dengan orang – orang yang dia anggap hebat dan keren,” papar Retno sapaan akrabnya.

Baca juga  Tata Ruang Jabopunjur Jadi Perhatian Tiga Presiden (Bagian 5 dari 7 Tulisan)

Yang ketiga, lanjutnya, remaja bergabung ke geng motor karena merasa kebutuhan untuk menunjukkan jati dirinya lewat aksi. Dan para remaja menganggap aksi mereka akan bisa terakomodir lewat berbagai kegiatan di geng motor.

Sementara alasan internal para remaja bergabung ke geng motor, lanjut Retno, biasanya karena remaja tersebut tidak mendapatkan pola pengasuhan yang hangat di lingkungan keluarga.

“Para orang tua hanya melakukan pola pengasuhan otoriter atau juga pola pengasuhan penelantaran. Anak hanya dipenuhi kebutuhan fisiknya tetapi tidak psikisnya. Akibatnya, anak mencari cari rasa hangat, rasa dicintai, dari teman teman geng motor yang dianggap menyayanginya,” papar Retno.

Sebagai psikolog, Retno memberikan solusi untuk mencegah agar anak tidak bergabung dengan geng motor atau kelompok gangster. Ia menegaskan peran keluarga sangat penting. Karena keluarga yang menerapkan pola asuh demokratis akan sangat membantu anak merasa dirinya bagian dari keluarga.

Baca juga  The Green Tanam Pohon dan Lepas Puluhan Ribu Bibit Ikan ke Sungai Cisadane

“Selain itu, pola asuh demokratis tentu akan membuat anak dan orang tua memiliki kualitas komunikasi yang hangat dan saling memahami.  Orang tua akan  tahu kebutuhan anak. Sebaliknya anak akan memahami kondisi orang tua,” ujar Retno.

Jika anak butuh aktualisasi, sambung Retno, maka para orang tua harus dapat memfasilitasi kebutuhan anak itu dengan mengeksplorasi minat dan bakat anak, mengarahkan anak pada ragam kegiatan kegiatan fisik yang menantang serta menarik minat anak tersebut.

Retno juga menegaskan, alangkah baik nya jika masyarakat maupun negara bisa memfasilitasi untuk adanya pusat (center) eksplorasi minat dan bakat anak di setiap desa/kelurahan. Sehingga anak bisa berlatih olahraga, seni, ketrampilan dan bidang atau kegiatn positif lainnya.

Baca juga  Perbaikan Stasiun Maseng Butuh 3 Bulan

“Negara juga bisa memfasilitasi sekolah untuk orang tua, agar mereka tahu bahasa pengasuhan  yang tepat untuk anak. Sehingga anak merasakan nyaman dan merasa orangtuanya adalah sumber utama dalam eskplorasi kepribadian,” pungkas Retno. [] Fahry

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top