Mempertanyakan Capaian Program Kabupaten Bogor Termaju di Indonesia

Mempertanyakan Capaian Program Kabupaten Bogor Termaju di Indonesia

BOGOR-KITA.com – Program Kabupaten Bogor Termaju di Indonesia sudah dicanangkan oleh Rachmat Yasin (RY) sebelum maju ke Pilkada Kabupaten Bogor 2013. Dalam kampanye, Rachmat Yasin yang akhirnya berpasangan dengan Sekda Nurhayanti, menjadikan program Kabupaten Bogor Termaju di Indonesia sebagai tema utama kampanye. Hasilnya, pasangan ini meraih kemenangan telak. Setelah menjabat, program Kabupaten Bogor Trmaju tetap menjadi fokus Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor.

Pada 23 Mei 2014, Bupai Nurhayanti (ketika itu masih wakil bupati) tetap menyuarakan dan menyemangati jajarannya untuk merealisasi program Kabupaten Bogor Termaju.
Setelah Rachmat Yasin resmi mundur dari Bupati Bogor, September 2014, terjadi perubahan. Nurhayanti yang menggantkan Rachmat Yasin terindikasi keleleran dan mulai kehilangan semangat merealisasi program Kabupaten Bogor Termaju. Hal ini setidaknya terlihat dari besarnya tingkat silpa selama dua tahun berturut turut yakni pada taun angaran 2014 dan 2015. Tudak tanggung-tanggun, jumlah silpa selama dua tahun itu mencapai sekitar 25 persen APBD.

Jelang tutup buku akhir tahun 2016, patut dipertanyakan, apa saja yang sudah dan belum tercapai dalam program Kabupaten Bogor Termaju yang sudah ditetapkan sebagai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bogor 2013-2018. “Itu harus dipertanyakan, berapa persen capaia program itu, dan berapa persen yang belum tercapai. Kalau belum tercapai Bupati Nuhayanti harus memberikan penjelasan mengapa belum tercapai,” kata peneliti senior LP3ES yang juga pemerhati pembanguna daerah, Rahadi Teguh Wiratama dalam pecakapan dengan BOGOR-KITA.com di Cibinong, Sabtu (26/11/2016).
Berikut ini diturunkan apa saja target dalam program Kabupaten Bogor Termaju yang dikutip dari pernyataan Nurhayanti yang dimuat di situs resmi Pemkab Bogor.

25 Penciri Kabupaten Bogor Ternaju di Indonesia

1. Terakreditasinya seluruh Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan Puskesmas.
2. Seluruh masyarakat memiliki jaminan kesehatan. Hal ini mengingat, berdasarkan data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)
3. Meningkatkan Angka Harapan Hidup (AHH) Kabupaten Bogor yang masih berada di 70 tahun.
4. Menuntaskan Angka Melek Huruf (AMH) penduduk berusia 15 sampai 60 tahun yang pada tahun 2012 baru mencapai 95,27 persen.
5. Menuntaskan pembangunan stadion olahraga berskala internasional
6. Menurunkan angka penduduk miskin menjadi 5 persen. Berdasarkan tingkat kemiskinan Kabupaten Bogor pada tahun 2013 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) adalah sebesar 8,52%, kemudian angka proyeksi penurunan pada tahun 2018 sebesar 5%. Dengan demikian diperlukan akselerasi penurunan tingkat kemiskinan sebesar 2,48% sampai dengan tahun 2018.
7. Tercapainya Rata-rata Lama Sekolah (RLS) 9 tahun. Pada 2013, tercatat RLS 8,04 tahun.
8. Menyediakan listrik perdesaan tertinggi se-Indonesia. Berdasarkan catatan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) jumlah Kepala Keluarga (KK) yang belum terairi listrik tahun 2013 sebanyak 213.547 KK. Tahun lalu, Radio Elektrifikasi (RE) tahun 2013 sebesar 82,65 persen. Sementara itu, RE Provinsi Jawa Barat pada tahun yang sama sebesar 75 persen RE nasional sebesar 65 persen. Ditargetkan hingga 2018 RE Kabupaten Bogor mampu mencapai 89,26%.
9. Kunjungan wisatawan termasuk tertinggi di Indonesia. Tahun lalu, kunjungan wisatawan ke bumi “Tegar Beriman” mencapai 4.125.130 orang.
10. Menjadikan 58 jenis perizinan di Kabupaten Bogor berstandar ISO. Hingga kini, baru ada 19 perizinan yang sudah memenuhi standar mutu internasional (ISO) dan 39 jenis lainnya masih dalam proses sertifikasi.
11. Pertumbuhan Ekonomi (LPE) yang melebihi LPE nasional, posisi LPE Kabupaten Bogor tahun 2013 sebesar 6,03 persen dan masih lebih rendah dibanding LPE Jawa Barat sebesar 6,06 persen, tetapi lebih tinggi dari LPE nasional yang baru mencapai 5,78 persen. Ditargetkan mampu mencapai 6,21% pada akhir tahun perencanaan.
12. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berlaku termasuk tertinggi di Indonesia. Nilai PDRB harga berlaku tahun 2013 sebanyak Rp. 109,67 trilyun. Jumlah ini meningkat dari Tahun 2012 sebesar Rp. 95,9 trilyun, sehingga menjadi peringkat ke-5 nasional dan di Jawa Barat di posisi ke-2 setelah Kabupaten Bekasi.
13. Menjadi kabupaten dengan produksi benih ikan hias dan ikan konsumsi air tawar terbanyak di Indonesia. Posisi saat ini, produksi benih ikan lele mencapai 1.755.826.300 ekor, sementara produksi se-Jawa Barat sebanyak 4.027.318.040 ekor. Produksi ikan hias Kabupaten Bogor sebanyak 222.234,14 RE atau terbesar di Provinsi Jawa Barat.
14. Terbangunnya pasar di setiap kecamatan. Hingga tahun 2013, telah dibangun pasar tradisional tersebar di 23 kecamatan dan 17 unit lainnya dikejar pembangunannya hingga 2018.
15. Tercapainya swasembada benih padi bermutu. Hingga tahun 2018, luas sawah di Kabupaten Bogor dipertahankan seluas 45.214 Ha sehingga kebutuhan benih padi unggul bersertifikat dalam lima tahun sebanyak 1.130,4 ton. Diharapkan dapat dipenuhi dari hasil produksi lokal atau minimal tercapai 1.129 ton agar tercapai swasembada benih.
16. Bebas Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Hingga 2013, masih tercatat 59.359 unit rumah tidak layak huni.
17. Terbangunnya poros barat-utara-tengah-timur. Langkah ini akan dilakukan lewat penyelesaian pembebasan lahan pada 2014 dan bukaan jalan hingga pelaksanaan konstruksi 2015-2018 pada jalur jalan kemang-bojonggede sepanjang 8,6 kilometer. Sementara, untuk poros tengah timur sepanjang 50,2 kilometer akan dilakukan pembebasan, bukaan jalan dan konstruksi pada tahun 2014-2018.
18. Mendorong terbangunnya Cibinong Raya sebagai Pusat Kegiatan Wilayah. Untuk itu dibutuhkan instrumen perencanaannya yaitu : tersedianya dokumen RTRW, tersedianya dokumen RTBL, tersedianya RDTR Cibinong Raya, Percepatan pembangunan CBD di Cibinong Raya.
19. Seluruh masyarakat mempunyai KTPel. Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTPel) akan menjangkau 5.111.769 juta penduduk 2013 (Sumber Data BPS). Pada tahun 2013, 2.469.701 juta jiwa penduduk diantaranya sudah dinyatakan tidak terjadi duplikasi KTPeL (Sumber Depdagri), sisa yang wajib KTP akan diselesaikan sampai dengan tahun 2018.
20. Pendapatan Asli Daerah (PAD) tertinggi di Indonesia, sebesar Rp. 1,256 triliun. Sebagai pembanding, Kabupaten dengan PAD terting se-Indonesia diduduki oleh Kabupaten Kutai Kartanegera dengan Rp. 2,5 triliun. Disusul kemudian, di posisi kedua, Kabupaten Badung sebesar Rp. 1,86 triliun. Dengan mengoptimalkan pajak dan retribusi daerah, maka upaya menggenjot PAD menjadi tertinggi di Indonesia dapat tercapai hingga tahun akhir perencanaan.
21. Mencapai predikat Wajar tanpa pengecualian (WTP). Saat ini masih memperoleh peringkat Wajar Dengan Pengecualian (WDP). Perlu peningkatan transparansi dan pertanggungjwaban angggaran lebih akuntabel hingga mencapai predikat WTP pada tahun-tahun selanjutnya.
22. Terbangunnya sistem informasi manajemen pemerintah Daerah. Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) di 40 Kecamatan. Mobile Pusat Layanan Internet Kecamatan (MPLIK).
23. Tersedianya layanan pengaduan masyarakat di seluruh OPD dan Desa/ Kelurahan. Sampai dengan tahun 2013, sudah terdapat 38 OPD yang menyediakan unit layanan pengaduan. Untuk itu dibutuhkan penyediaan layanan pengaduan yang akan diselesaikan sampai dengan tahun 2018, termasuk pada tingkat Kecamatan, Desa dan Kelurahan.
24. Tidak ada daerah terisolir. Daerah yang sulit dijangkau, yaitu daerah yang belum ada akses jalan dan jembatan karena faktor geografis, saat ini tercatat di 40 lokasi/kampong. Direncanakan sampai dengan tahun 2018, tidak ada lagi daerah yang sulit dijangkau.
25. Terbangunnya Mesjid Besar di setiap kecamatan. Sampai dengan Tahun 2014 akan ditangani sebanyak 19 mesjid besar. Adapun sisanya sebanyak 21 mesjid ditangani sampai dengan tahun 2018. [] BK-1



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *