Kota Bogor

Lagi Hangat Diperbincangkan, Seperti Apa Kebun Raya Bogor di Mata Scientist IPB University?

kebun raya bogor

BOGOR-KITAcom, BOGOR – Kebun Raya Bogor sedang hangat diperbincangkan karena ada rencana operasional wisata malam dengan permainan lampu atau GLOW. Rencana itu mendapat penolakan dari sejumlah pihak. Kabar terbaru pembukaan GLOW masih menunggu kajian dari tim ahli.

Pada kesempatan yang lain, Kebun Raya adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Kota Bogor. Kebun Raya Bogor (KRB) yang telah didirikan sejak tahun 1817 adalah aset bersama yang harus kita jaga. Hal inilah yang menjadi pembahasan dalam Webinar berjudul “Apa Kata Mereka Tentang Kebun Raya?” yang diselenggarakan oleh Departemen Arsitektur Lanskap (ARL) IPB University bekerjasama dengan Silaturahmi Keluarga Alumni Arsitektur Lanskap IPB University (SKALA), pekan lalu.

Webinar ini menghadirkan sejumlah pembicara baik dari IPB University maupun dari institusi lain. Mereka adalah Dr Melani Abdulkadir-Sunito dari Fakultas Ekologi Manusia (Fema), Dr Siti Nurisjah dari Departemen Arsitektur Lanskap (ARL) dan Prof Hadi Sukadi Alikodra dari Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan).

Baca juga  Tertarik Kebun Raya Bogor, Pemkot Chong Zou Sambangi Kota Bogor

Ketua Departemen Arsitektur Lanskap, IPB University, Dr Akhmad Arifin Hadi mengatakan bahwa webinar ini diselenggarakan untuk mendiskusikan mengenai Kebun Raya Bogor di masa lampau, saat ini, dan masa mendatang dari sisi keilmuan.

“Kebun Raya Bogor bagi Departemen ARL IPB University sangat penting keberadaannya. Karena di sanalah dilakukan banyak penelitian, baik oleh dosen maupun mahasiswa. Selain itu, Kebun Raya Bogor juga dijadikan tempat praktikum dan fieldtrip untuk mata kuliah Dasar-Dasar Arsitektur Lanskap,” imbuhnya.

Dimoderatori oleh Dr Alinda Fitriany Malik Zain, Dosen IPB University dari Departemen ARL, webinar ini dihadiri oleh 270 partisipan yang berasal dari berbagai kalangan, seperti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Dr Melani membahas Kebun Raya dari sisi keterkaitan antara aktivitas manusia dengan ekosistem alam. Kebun Raya Bogor adalah kebun raya terbesar dan tertua di Asia Tenggara yang letaknya unik, yaitu berada di tengah kota. Kebun Raya Bogor seperti oase di tengah perkotaan yang menjadi ruang bernapas.

Baca juga  Teguh Harap Bupati Bogor yang Baru Tindaklanjuti LAHP Ombudsman RI

“Di dalam situasi perubahan global hingga lokal yang kian cepat, Kebun Botani memberi ruang untuk bernapas. Menjadi tempat untuk belajar mengubah mindset, juga pendidikan mengenai pelestarian lingkungan (from visitors to supporters),” katanya.

Dari perspektif keilmuan Arsitektur Lanskap, Dr Siti Nurisyah membahas arti Kebun Raya Bogor bagi mahasiswa dan dosen ARL IPB University. Menurutnya KRB menjadi lokasi kegiatan akademik (praktikum, teaching lab, outdoor class, perpustakaan, bahan tulisan ilmiah). KRB juga menjadi area kebanggaan bagi warga IPB University, lokasi utama kunjungan, lokasi kegiatan non-akademik, kekeluargaan, juga rekreasi.

“KRB adalah bagian dari Kota Bogor. KRB menjadi ikon dan kawasan kebanggaan warga kota, daya tarik wisata serta menjadi bagian dari ruang terbuka hijau (RTH) kota yang penting dalam mengendalikan kualitas lingkungan kota. KRB juga sebagai suatu kawasan konservasi yang sudah berumur lebih dari 200 tahun,” katanya.

Baca juga  16 Pengurus Rumah Peribadatan di Sekitar Kebun Raya Bogor Ikut Sosialisasi Sistem Satu Arah

Sementara itu, Prof Hadi Sukadi Alikodra membahas mengenai teori triple helix. Yaitu pendekatan yang menciptakan sinergi kerjasama antara tiga aktor penting (akademisi, bisnis, dan pemerintah) untuk membangun ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy). “Kebun Raya Bogor adalah core atau pusat pembangunan Kota Bogor,” ujarnya.

Prof Eko Baroto Walujo dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang turut hadir dalam webinar ini mengatakan bahwa Kebun Raya Bogor adalah sumber inspirasi. “Dari sebelum kemerdekaan, sesudah kemerdekaan, hingga saat ini, Kebun Raya Bogor lah yang melahirkan semua itu. Coba lihat di sekitar KRB, lahir Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertanian, termasuk IPB University dan Universitas Indonesia. Fungsi pendidikan ada, fungsi riset dan inovasinya juga ada. Hampir semua sumber-sumber daya yang kita kenali saat ini, sumber pangan, sumber obat, dulunya berasal dari Kebun Raya Bogor,” katanya. [] Hari

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top