Kab. Bogor

Alih Fungsi Lahan di Puncak Terus menjadi Sorotan

BOGOR-KITA.com, CISARUA – Persoalan alih fungsi lahan di kawasan Puncak terus dipertanyakan masyarakat, bahkan, warga Puncak mempertanyakan kinerja Kementerian ATR/BPN dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) terkait kerusakan alam yang terjadi saat ini akibat maraknya pembangunan.

Maraknya pembangunan di lahan perkebunan Gunung Mas dan Ciliwung sangat meresahkan warga karena dampaknya dirasakan langsung oleh mereka. Secara umum, pencemaran sungai meningkat, sumber air mulai menghilang, dan suhu udara naik. Kekhawatiran warga tentang kerusakan alam di Puncak semakin besar.

Ancaman bencana di masa depan tidak bisa diabaikan, karena dalam kurun waktu 10 tahun sudah terjadi dua kali banjir bandang. Warga juga mempertanyakan fungsi pengawasan DPRD Kabupaten Bogor dan DPR RI.

Baca juga  BASOLIA dan YSK Gelar Forum Silaturahmi Umat Beragama

“Untuk kawasan Puncak sudah ada berbagai aturan seperti Keppres, Perda, Pergub, Perbup. Apakah semua itu diabaikan jika melihat maraknya pembangunan saat ini?” ungkap Deden Abdurahman, koordinator Karukunan Wargi Puncak Senin (10/6/2024).

“Kami menuding bahwa alam Puncak dikorbankan demi pembangunan wahana-wahana baru, mengorbankan keasrian, penghijauan, dan kesejukan,” tambahnya.

“Pihak PUPR jangan tutup mata, ini alam Puncak menyangkut hajat orang banyak.” bebernya

Sementara, Kepala Desa Tugu Selatan Eko Widiana mengatakan, kalau dari pemerintah desa itu sederhana, ketika ada investasi masuk, terlepas dari KSO dan Gunung Mas, “Proses itu di luar kewenangan desa,” ucapnya.

Pemerintah desa merespons dengan meningkatkan penyerapan tenaga kerja warga di wilayah Tugu Selatan. “Kalau ada KSO yang berinvestasi di Puncak, itu sisi positif bagi masyarakat yang mencari pekerjaan, apalagi pasca Covid-19.”

Baca juga  Kemacetan Dramaga Bikin Pilu Lalu Lintas

Terkait lingkungan hidup, itu wewenang pemerintah daerah sampai ke pusat. “Kalau warga intinya, siapapun yang berinvestasi selama bermanfaat untuk warga dalam hal penyerapan tenaga kerja, pasti warga ikut terlibat.” imbuhnya.

“Kita sebenarnya lebih senang dengan kondisi alam seperti dulu, tapi produksi teh Gunung Mas sudah tidak mampu memenuhi upah pekerja. Harus ada inovasi yang dilakukan Gunung Mas untuk bisa menghidupi karyawan. Produksi teh sudah tidak mengimbangi upah yang harus dibayar, sehingga perlu pengembangan agrowisata. Terkait regulasi dan lainnya, pemerintah desa mempercayakan sepenuhnya kepada pemerintah daerah dan pusat,” tandasnya. [] Danu

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top