60 Persen Kujang Bikinan Wahyu Dipesan Bukan Oleh Orang Sunda

Wahyu

BOGOR-KITA.com – Kujang adalah senjata khas orang Sunda. Kujang sekaligus menjadi salah satu simbol orang Sunda, seperti dikukuhkan pada Tugu Kujang yang berada Jalan Sudirman, Kota Bogor. Disebut Tugu Kujang, karena kujang yang berada di puncaknya.

Wahyu Affandi Suradinta adalah pengrajin sekaligus pengoleksi kujang yang dikenal luas di Bogor.  Kang Wahyu, demikian dia biasa disapa, mengenal kujang dari A sampai Z. Bukan hanya itu, Wahyu juga mengenal siapa saja peminat kujang. Siapa saja peminatnya Kang Wahyu? Sebanyak 60 persen kujang bikinan Wahyu dipesan justru bukan oleh orang Sunda, 40 persen lainnya dipesan orang Sunda. “Orang Sunda kadang cuek dan tidak mau tau,” kata Wahyu di Bogor, Sabtu (16/5/2015).

Wahyu kemudian menuturkan apa itu kujang. Kujang, kata Wahyu, merupakan senjata tradisional yang berasal dari Jawa Barat dan dikenal sebagai senjata yang memiliki nilai sakral dan kekuatan magis. Kujang melambangkan kekuatan dan keberanian untuk melindungi hak dan kebenaran. Selain itu Kujang juga dijadikan identitas atau lambang kota di Jawa Barat yaitu Bogor.

Di Bogor terdapat sebuah tempat pembuatan kujang yaitu Kujang Pajajaran  yang beralamat di Jalan Parung Banteng Rt. 04/01 No. 120 Kelurahan Katulampa Kecamatan Bogor Timur. Tempat pembuatan kujang ini dimiliki Wahyu Affandi Suradinata.

Wahyu Affandi Suradinta atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Kujang ini menceritakan, mulai menyukai kujang sejak dia masih remaja dan memulai usaha pembuatan kujang sejak 1995 dan merupakan satu-satunya pengrajin kujang yang terdapat di Bogor. Awalnya dia hanya membuat kujang untuk dirinya sendiri dan beberapa teman yang memesan. Namun karena selalu ada peminat, maka pada tahun 2000-an sudah terjual secara massal. Menurtnya, dulu hanya orang-orang tertentu saja yang boleh memiliki kujang, namun saat ini semua orang boleh memiliki kujang untuk pusaka atau sekedar untuk hiasan atau souvenir.

Kujang, imbuh Wahyu, memliki beberapa fungsi, seperti untuk pusaka, jika digunakan untuk pusaka maka bagian mata kujang ditutup oleh logam mulia bisa berupa emas atau logam mulia lainnya, kemudian diberi kekuatan magis karena memang untuk menjaga dirinya. Fungsi kedua adalah sebagai “pakarang” atau alat untuk bela diri, dimana bilahnya dibalur dengan racun. Fungsi yang ketiga adalah sebagai “pangarak” atau digunakan untuk mengarak saat upacara adat atau upacara keagamaan. Fungsi keempat adalah “pamangkas” yaitu untuk bertani.

Menurut Wahyu Affandi, terdapat beberapa jenis kujang dlihat dari bentuknya dan memiliki filosofi masing – masing. Pertama adalah kujang ciung atau beo yang merupakan hewan cerdas. Jadi, katanya, dulu yang boleh memiliki kujang ciung adalah kalangan raja. Kedua adalah kujang kuntul. Jenis ini boleh dimilki oleh rakyat biasa yang berprestasi. Ketiga adalah kujang jago yang hanya boleh dimiliki oleh kalangan biasa yang bisa perperang dan diangkat menjadi panglima perang oleh raja. Keempat adalah kujang naga yang boleh dimiliki oleh utusan raja untuk membuka suatu wilayah. Selain itu ada juga kujang badak, kujang bangkong dan kujang wayang yang berasal dari Cirebon. [] Yuda



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *