Tiga Modal Pembangunan Kota

Tiga Modal Pembangunan Kota

BOGOR-KITA.com – Sabtu (31/12/2016), Wali Kota Bogor Bima Arya menjadi pembicara dalam diskusi ilmiah. Sekaligus pelantikan pengurus daerah Majelis Sinergi Kalam Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia, Organisasi Wilayah Khusus Bogor (Masika Icmi Orwilsus Bogor). Acara berlangsung di auditorium Thoyib Hadiwinata Faperta IPB Darmaga Bogor,

Pada kesempatan itu Bima membahas tentang tiga modal dalam membangun kota. Masing-masing modal finansial, sosial dan intelektual. Modal finansial merupakan cara untuk mengelola APBD. Berikutnya modal sosial. Dia mencontohkan Kota Bandung, Banyuwangi, Bantaeng dan Kota Bogor. “Bagaimana warga di kota-kota itu memiliki energi sosial yang luar biasa dalam mendukung dan mendampingi pemerintah membangun bersama-sama sehingga pembangunan terasa konkrit dan riil di keseharian langsung,” katanya.

Dalam kaitan itu menurutnya, lomba we love citys didukung kampanye habis-habisan. Bukan semata-mata untuk meraih penghargaan dari WWF atau mengejar preatise. “Tetapi ini soal membangun modal sosial warga Kota Bogor yang harus dibangkitkan dan disentuh agar mereka termotivasi, terinspirasi untuk melakukan sesuatu,” lanjutnya.

Namun kedua hal itu masih harus didukung vision, gagasan dan ide. “Kota harus digerakan oleh otak bukan oleh otot. Yang membuat beberapa kota mandek karena didorong oleh otot, kolusi antara preman dan pengusaha,” katanya. Jadi kekuatan intelektual menurutnya sangat penting.

Dalam kaitan itu, Bima melihat ICMI dan Masika berada di tengah pertautan antara 3 elemen tadi. “Kalau organisasi ini dibuat maksimal akan luar biasa, karena kita semua adalah kekuatan intelektual kelas menengah yang menurut catatan sejarah sejarah dunia ada dibalik pertumbuhan pesat beberapa negara,” katanya. Mulai dari Korea Selatan, negara-negara di Asia Timur dan Uni Emirat Arab, kelas menengahnya sangat kuat. Sedankan di Indonesia kelas menengah itu fluktiatif, kadang naik kadang turun.

Ada beberapa syarat agar kelas menengah ini menjadi kekuatan yang signifikan. Kompetensi, kemandirian dan kolaborasi. “Jadi intelektual itu harus memiliki kompetensi, kemandirian dan kolabirasi. Intelektual harus membangun jaringan yang luar biasa. Intelektual itu harus organic tidak bisa di menara gading. Tapi harus turun membangun jaringan,” ujar Bima lebih lanjut.

Kegiatan yang mengusung tema peran strategis cendekiawan muda dalam aktualisasi gerakan hijrah moral untuk kebangkitan Indonesia, dihadiri kepala Bappeda Kabupaten Bogor dengan Keynote Speaker Prof. Dr. H. Herry Suhardiyanto, M.Sc wakil ketua umum ICMI Pusat. [] Admin



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *