Siapa Calon Walikota dan Bupati Bogor yang Sasar Pemilih Generasi Millenial?

BOGOR-KITA.com – Generasi millenial, siapa mereka? Apakah mereka tertarik datang ke tempat pemilhan suara (TPS) saat pemilu atau pilkada?  Figur kandidat seperti apa yang mereka sukai? Siapa calon Walikota Bogor dan calon Bupati Bogor yang paling efektif merayu pemilih generasi millenial?

Jumlah Generasi Millenial Kota dan Kabupaten Bogor  

Generasi millenial atau juga disebut Generasi Y secara umum digolongkan sebagai kelompok masyarakat yang lahir antara tahun 1980 sampai tahun 2000.  Mereka adalah generasi pertama yang merasakan kehadiran teknologi internet. Usia mereka saat pilkada serentak yang digelar 27 Juni 2018 mendatang, antara 18 sampai 38 tahun.

Jumlah mereka cukup besar. Di Kota Bogor, dihitung berdasarkan data jumlah penduduk usia 14 tahun pada 2014,  mencapai 277.390 jiwa. Angka ini sekitar sepertiga dari  total jumlah pemilih tetap (DPT) Kota Bogor yang pada tahun 2018 mendatang diperkirakan mencapai 758.551 pemilih.

Jumlah generasi millenial Kota Bogor ini, jauh di atas perolehan suara Bima Arya Sugiarto-Usmar Hariman yang memenangi Pilwakot Kota Bogor dengan perolehan sebesar 132.835 suara. Sedang jumlah generasi millenial di Kabupaten Bogor, dihitung berdasarkan usia penduduk 10 tahun pada tahun 2010, mencapai 1.856.000 orang.

Angka ini juga sekitar sepertiga dari total DPT Kabupaten Bogor tahun 2017 sebesar 3.318.924 orang. Jumlah generasi millenial ini juga berada di atas perolehan suara Rachmat Yasin-Nurhayanti saat memenangi Pilkada Kabupaten Bogor tahun 2013 dengan perolehan sebesar 1.255.927 suara .

Milenial Tidak Apolitis

Sejumlah analis menilai bahwa generasi millenial adalah kelompok masyarakat yang apatis terhadap politik. Karena itu Hilary Clinton dan Donald Trump tidak banyak menyasar generasi milenial sebagai pemilih.

Tetapi apakah benar generasi milenial apatis terhadap politik?

Barrack Obama membuktikan tidak. Barrack Obama menang dua kali pemilu Amerika Serikat karena memberikan perhatian terhadap generasi millenial.

Survey yang dilakukan Majalah Femina yang dipublikasi Januari 2017 juga menyimpulkan, generasi millenial tidak apolitis. Survey Femina terhadap 693 responden menghasilkan kesimpulan 76% generasi millenial selalu menggunakan hak suara tiap kali ada pilpres maupun pilkada.

Sebanyak 19% lainnya mengaku turut berpartisipasi hanya jika mereka tertarik kepada salah satu karakter kandidat. Jika tidak, mereka akan mengunggu sesuai timing yang pas. Generasi mileinial yang memilih golput hanya 5%.

Pada Agustus 2017, CSIS juga melakukan survey terhadap generasi millenial dengan 600 responden yang dipilih secara acak (multistage random sampling) dari 34 provinsi di Indonesia. Survey ini kembali membuktikan generasi millenial bukan generasi apolitis.

Dengan jumlah populasi yang besar, maka generasi millenial merupakan salah satu penentu kemenangan calon yang bertarung pada pilkada termasuk pilkada di Kota Bogor dan Kabupaten Bogor tahun 2018 mendatang.

You Only Live Once

Siapa generasi milenial? Bagaimana merayu mereka? Ini mungkin tidak mudah bagi kalangan tertentu. Sebab mereka memang beda. Mereka membentuk karakternya sendiri. Mereka membentuk trennya sendiri.

Dari segi komunikasi, mereka bisa dikatakan, tidak percaya pada distribusi informasi yang bersifat satu arah. Mereka lebih percaya kepada user generated content (UGC) atau konten dan informasi yang dibuat oleh perorangan. Mereka tidak terlalu percaya pada perusahaan besar dan iklan, mereka lebih mementingkan pengalaman pribadi ketimbang iklan atau review konvensional.

Itu tampaknya konsekuensi media sosial. Jika dihadapkan pada sebuah pilihan, mayoritas kaum millennial akan lebih memilih ponsel dibandingkan TV. Mereka akan lebih memilih tidak memiliki akses ke TV, dibandingkan akses ke ponsel.

Orang percaya bahwa ‘mantra’ kaum millienial adalah You Only Live Once atau YOLO. Hidup cuma sekali. Oleh karena itu, hidup harus dinikmati.

Paham ini yang mungkin sulit dipahami oleh kalanan tertentu. Sebab paham ini diwujudkan dengan menikmati hidup yang dicerminkan lewat perilaku yang cenderung mengejar kesenangan sesaat, seperti belanja atau kegiatan lain yang ujung-ujungnya duit.

Tapi,  pada tahun 2013 lewat survei “Share of Wallet” terungkap sebuah penemuan bahwa 28% masyarakat Indonesia memiliki pengeluaran yang lebih besar daripada pendapatan. Mereka menabung rata-rata hanya 8% dari pendapatannya.

Selain itu, fakta juga membuktikan bahwa kelompok masyarakat dengan pendapatan lebih rendah cenderung lebih konsumtif daripada masyarakat dengan pendapatan lebih tinggi. Studi tersebut menunjukkan bahwa proses konsumsi yang berlebihan atau dikenal dengan istilah konsumerisme makin merajalela.

Tak jarang konsumerisme dialami oleh generasi muda atau millenial yang baru saja masuk ke dunia kerja dan mendapatkan uang secara mandiri dari gaji. Biasanya, generasi muda merogoh koceknya untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup dengan mengikuti tren. Maka tak heran jika pola konsumtif sering ditemukan pada segmen fashion dan entertainment.

Siapapun generasi millenial, satu hal pasti bahwa merayu mereka hanya efektif dilakukan melalui media sosial.

Siapa yang paling efektif di antara Calon Walikota/Wakil Walikota Bogor dan calon Bupati dan Calon Wakil Bogor? Ukurannya yang  pertama adalah jumlah followers akun media sosial terutama instragram.

Pilkada Kota Bogor diikuti empat pasang calon walikota/wakil walikota. Yakni, pasangan Bima Arya (petahana) – Dedie A Rachim (PAN, Demokrat, Golkar, PBB, Nasdem, Hanura, dan Perindo). Kemudian pasangan Achmad Ruyat – Zaenul Mutaqin (PPP, PKS, Gerindra), lalu pasangan Dadang Iskandar Danubarata  – Sugeng Teguh Santoso  (PDIP). Satu lagi pasangan Edgar Suratman – Welly Ginanjar (independen).

Sementara Pilkada Kabupaten Bogor diikuti 5 pasang calon. Pertama, pasangan Ade Ruhendi – Inggrid Kansil (Golkar, Demokrat, PAN, PKS, Nasdem, PKPI, Partai Berkarya. Pasangan kedua, Ade Yasin-Iwan Setiawan (PPP, Gerindra, PKB). Pasangan ketiga, Fitri Putra Nugraha-Bayu Sjahjohan (PDIP, Hanura). Keempat, Ade Wardhana Adinata-Asep Ruhiyat (independen), dan kelima Gunawan Hasan-Ficky Rhoma Irama (independen).

Siapa di antara 4 pasang calon Walikota Bogor yang paling berkemampuan merayu 277.390 pemilih generasi millenial? Siapa pula di antara 5 pasang calon Bupati Bogor yang paling berkemampuan mendekati sekitar 1.856.000 pemilih generasi millenial?

Pada Pilgub Jabar, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa di antara empat pasang calon gubernur, adalah Ridwan Kamil yang dinilai memiliki kemampuan mendekati sekitar 18 juta generasi millenial Jabar.

Indikasinya adalah Ridwan Kamil sudah sejak lama aktif berkomunikasi melalui media sosial terutama youtube dan instagram, dua medsos favorit generasi millenial.

Jumlah followers akun instagram Ridwan Kamil mencapai 7,7 juta orang, lebih besar dari perolehan suara Ahmad Heryawan-Dede Yusuf yang memenangi Pilgub Jabar  2008 dengan perolehan sekitar 7,5 juta suara.

Jumlah followers akun instagram Ridwan Kamil hanya sedikit lebih rendah ketimbang followers akun instagram Jokowi yang mencapai 7,8 juta orang.

Ridwan Kamil juga mampu memilih konten yang disukai generasi millenial, antara lain mengupload bintang Korea yang banyak diganderungi generasi millenial.

Bagaimana dengan pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Bogor dan calon Bupati dan calon Wakil Bupati Bogor?

Saat ditelusuri, followers akun instagram Bima Arya paling tinggi mencapai 151.000 orang. Sedang calon wakilnya Dedie Rachim kemungkinan tidak memiliki akun instagram karena tidak ditemukan.

Followers Dadang Iskandar Danubarata 2.348, dan followers akun instagram calon wakilnya, Sugeng Teguh Santoso mencapai 43.400 orang.

Followers akun instagram Achmad Ruyat 1,682 orang, dan  followers akun instagram Zaenul Mutaqin 1.169. Sedang followers akun instagran Edgar Suratman 308 dan Welly 44 orang.

Sementara untuk Pilkada Kabupaten Bogor, followers akun instagram calon  Wakil Bupati Inggrid Kansil paling tinggi mencapai 336.000, sedang followers instagram Ade Ruhendi 4.374 orang.

Followers akun instagram calon bupati Ade Yasin 12.400 orang dan followers instagram calon wakilnya Iwan Setiawan 3.300 orang.

Follower akun instagram Nungki 40 orang dan followers akun instagram calon wakilnya Bayu Sjahjohan kemungkinan tidak ada karena tidak ditemukan.

Followers akun instagram Ade Wardahana 1.896 orang dan calon wakilnya Asep Ruhiyat kemungkinan tidak ada karena tidak ditemukan.

Followers akun instagram Gunawan Hasan 758 orang dan calon wakilnya Ficky Rhoma Irama kemungkinan tidak ada karena tidak ditemukan.

Berdasakan jumlah followers akun instagram ini, maka adalah Bima Arya Sugiarto dan Inggrid Kansil yang paling serius menggarap pemilih dari kalangan generasi millenial.

Jumlah followers akun instagram Bima Arya yang mencapai 151.000 orang lebih tinggi ketimbang perolehan suaranya saat memenangi Pilwakot Kota Bogor yang hanya 132.835 suara.

Sedang jumlah followers akun instagram Inggrid Kansil yang mencapai 336.000 orang, lebih rendah sedikit ketimbang perolehan suara Rachmat Yasin – Karyawan Faturachman  yang pada putaran pertama Pilkada Kabupaten Bogor 2008 mencapai 498.175 suara.

Apakah calon walikota atau calon bupati yang followers instagrama paling banyak lebih berpeluang memenangi pilkada?

Belum tentu. Sebab itu hanya untuk pemilih generasi millenial. Followers itu juga belum tentu pemilih Bogor. Selain itu, mengisi konten sebuah akun instagram sesuai dengan selera kaum millenial memerlukan keahlian tersendiri. [] (Petrus Barus, Pemimpin Redaksi BOGOR-KITA.com).



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *