“Senjata” Pleger dan Jutek Tak Mampu Hadang Bima Arya

BOGOR-KITA.com – Diberondong berbagai “senjata”, petahana Bima Arya Sugiarto tetap berhasil memenangi Pilkada Kota Bogor yang digelar 27 Juni 218. Perolehan suara Bima malah melonjat tinggi dibanding perolehan suara yang diperoleh pada Pilkada 2013 lalu. Apa rahasia kemenangan Bima?

Dari Pleger Sampai Jutek

Pleger, ini adalah salah satu senjata yang banyak dihujamkan untuk memojokkan Bima Arya jauh sebelum memasuki proses pilkada.

Pleger adalah sebuah istilah hukum. Dalam kamus hukum, pleger diartikan sebagai orang yang melakukan sendiri perbuatan yang memenuhi rumusan delik yaitu orang yang bertanggung jawab.

Istilah pleger ini muncul terkait kasus korupsi pembelian lahan Jambu Dua yang disidangkan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung.  Majelis hakim ketika itu menjatuhkan vonis 4 tahun penjara dan denda Rp200 juta kepada Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Bogor Hidayat Yudha Prianta.  Mantan Camat Tanah Sereal Irwan Gumelar dan Ketua Tim Apraisal Roni Nasrun Adnan juga divonis masing-masing 4 tahun penjara dan denda sebesar Rp200 juta subsidair 4 bulan kurungan.

Sementara Bima Arya sebagai Walikota Bogor dan Sekretaris Daerah Kota Bogor Ade Syarif Hidayat dalam putusan majelis hakim, dinyatakan sebagai pleger.

Sejak putusan itu, kata pleger sangat populer di Kota Bogor. Pleger diproduksi jadi senjata yang terus menerus dihujamkan kepada  Bima. Entah berapa puluh atau bahkan ratusan berita yang muncul terkait pleger yang diarahkan ke Bima. Juga muncul aksi demo dari elemen masyarakat tertentu.

Sedemikian derasnya senjata pleger menghujam Bima, sehingga menggiring opini Bima akan menjadi pesakitan. Kalaupun tidak, Bima akan tersungkur bila mencalonkan diri dalam Pilkada 2018.

Jauh sebelumnya Bima juga menjadi sorotan karena dianggap terlalu emosional setelah mengetahui namanya dicatut oleh salah seorang calo perizinan untuk memuluskan perizinan kafe.

Ketika itu, Senin (12/01/2015), begitu memperoleh laporan dari seorang pengusaha yang dimintai sejumlah uang “pelicin” untuk pengurusan izin kafe, Bima langsung mendatangi si calo yang sedang berada di Kantin Balai Kota Bogor.  Saat diperiksa, politikus Partai PAN itu mendapati uang senilai Rp 5 juta yang diduga digunakan untuk memuluskan soal perizinan kafe. Bima langsung membawa calo itu ke kantor BPPTPM Kota Bogor untuk dikonfrontasi.

Dari hasil sidak diketahui, uang tersebut diminta oleh oknum pegawai Badan Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal (BPPTPM) Kota Bogor kepada pengusaha kafe dengan dalih agar Wali Kota bisa mengeluarkan izin dengan gampang. Bima menjadi sorotan ketika itu karena dianggap terlalu emosional.

Masih ada sejumlah langkah Bima yang ditafsirkan subjektif untuk tidak dikatakan negatif. Antara lain saat Bima memecat Kepala Satpol PP Agung Prihatno karena dua anak buahnya tertangkap mengonsumsi narkoba. Agung legowo dengan pencopotan jabatannya, tetapi sorotan terhadap Bima tetap muncul, dengan alasan seharusnya dua orang anggota Satpol PP itu saja yang diberikan sanksi.

Aksi Bima menendang spedamotor karena parkir sembarangan di pasar  juga menjadi sorotan publik.

Cukup banyak langkah-langkah atau kebijakan Bima Arya yang menjadi sorotan publik.

Bahkan, raut wajah Bima juga menjadi perhatian. Sedemikian rupa, Bima dinilai sebagai orang jutek. Jutek dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai judes, marah-marah melulu, tidak bersahabat, unfriendly, orang jadi segan kalau mau bicara dan wajahnya seperti selalu muram.

Karena itu, jelang Pilkada Kota Bogor tidak sedikit yang meremehkan Bima. Apalagi Achmat Ruyat, pesaing kuat Bima pada Pilkada 2013,  kemudian menyatakan mencalonkan diri.

Ruyat, politisi PKS yang juga mantan Wakil Walikota Bogor diperkirakan akan mengalahkan Bima, karena pada Pilkada 2013, selisih suara keduanya terpaut tipis hanya 1.755 suara saja.

Apalagi Ruyat berpasangan dengan Ketua DPC PPP Kota Bogor Zaenul Mutaqin yang diketahui sebagai politisi cukup dikenal di Kota Bogor.

Perpecahan Bima dengan Wakil Walikota Usmar Hariman juga dianggap anomali. Usmar adalah Ketua DPC Partai Demokrat. Partai Demokrat adalah pemilik 15 kursi di DPRD Kota Bogor pada Pemilu 2008 yang sudah barang tentu menjadi salah satu kekuatan pasangan Bima – Usmar sehingga memenangi Pilkada 2013.

Pada Pemilu 2014, perolehan kursi Demokrat di Kota Bogor memang merosot tajam menjadi hanya 5 kursi. Secara hitung-hitungan politik, kekuatan Demokrat atau faktor Usmar memang mengecil, tetapi secara etika politik, tentunya Bima dianggap “habis manis sepah dibuang.”

Ketika Bima akhirnya memilih Dedie Rachim dan meninggalkan Usmar Hariman lagi-lagi menjadi sorotan publik. Apalagi Usmar kemudian secara terbuka mengundurkan diri sebagai Ketua DPC Partai Demokrat dan tidak maju dalam pilkada.

Sedemikian rupa, Bima terus menerus jadi sorotan publik sehingga tidak sedikit analisa yang menilai Bima-Dedie akan kalah.

Antara Fakta dan Fata Morgana

Apa yang kemudian terjadi? Bima – Dedie keluar sebagai pemenang. Perolehan  suara Bima-Dedie bahkan melonjak tajam dibanding Pilkada 2013. Pada Pilkada 2013, Bima yang berpasangan dengan Usmar Hariman hanya memproleh 132.835 suara, terpaut hanya 1.755 suara dengan perolehan suara Achmad Ru’yat – Aim Halim Hermana yang memperoleh 131.080 suara.

Pada Pilkada 2018 perolehan suara pasangan Bima – Dedie yang keluar sebagai pemenang melonjak tinggi mencapai 215.708 suara. Perolehan suara Ruyat – Zaenul yang berada di urutan kedua juga melonjak dari 131.080 suara pada Pilkada 2013 menjadi 153.407 suara pada Pilkada 2018.

Namun selisih perolehan suara Bima dan Ruyat membesar dari 1.755 suara pada Pilkada 2013 menjadi 62.301 suara pada Pilkada 2018.

Bagaimana logika kemenangan Bima– Dedie di tengah sorotan yang berkepanjang terhadap Bima sejak menjabat Walikota Bogor sampai memasuki masa Pilkada 2018? Apakah karena kehadiran Dedie Rachim?

Apa pun alasannya, kemenangan Bima-Dedie membuktikan bahwa publik Kota Bogor memahami apa itu opini politik. Publik Kota Bogor cerdas membedakan mana opini politik yang terbentuk berdasarkan kinerja, dan mana opini yang dibentuk hanya dengan kata-kata.

Publik Kota Bogor kritis membedakan bahwa opini politik yang terbentuk dengan kinerja merupakan fakta, sedangkan opini yang dibentuk dengan kata-kata adalah fatamorgana.

Tetapi apakah Bima Arya dapat dikategorikan sebagai Walikota Bogor yang memiliki kinerja?

Ini tentu saja bisa menjadi perdebatan tersendiri, tergantung dari alat ukur yang digunakan.

Namun satu hal dapat dipastikan bahwa Bima Arya adalah Walikota Bogor yang diketahui telah melakukan serangkaian upaya untuk membangun atau membenahi Kota Bogor. Salah satu yang cepat dilakukan adalah mendeklarasi Kota Bogor sebagai smart city dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam tata kelola sehari-hari, dengan tujuan untuk mempertinggi efisiensi, memperbaiki pelayanan publik, dan meningkatkan kesejahteraan warga.

Dalam kaitan itu Bima melakukan berbagai upaya. Antara lain  membuat Kota Bogor tidak lagi macet melalui kebijakan satu arah, penertiban dan pembenahan arus lalulintas dan perbaikan jembatan penyeberangan orang di sekitar Taman Topi dan Stasiun Kereta, penertiban kawasan Surya Kencana, dan lain sebagainya.

Bima juga melakukan sejumlah upaya memperindah Kota Bogor mulai dari mempercantik Jembatan Merah, mempercantik Air Mancur, menata trotoar di sekeliling Istana Bogor, membangun Lawang Salapan atau Gerbang Sembilan di Tugu Kujang, menata sejumlah taman, menghias berbagai titik di Kota Bogor dengan lampu hias, menanam pohon pucuk merah di sepanjang Jalan Pajajaran, membangun arena “bermain” untuk kaum milenial dan lain sebagainya. Juga ada upaya pembenahan pasar, membangun birokrasi profesional, dan lain sebagainya.

Lepas dari berhasil tidaknya serangkaian upaya yang dilakukan, satu hal pasti adalah bahwa Bima nyaris bisa dikatakan tak berhenti melakukan upaya-upaya membangun Kota Bogor. [] Petrus Barus




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *