Semangat Kebersamaan dan Persatuan Harus Terus Mengalir

BOGOR-KITA.com – Dalam kegiatan Riung Mungpulung yang merupakan rangkaian kegiatan Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-72 Tahun 2017 Tingkat Kota Bogor, Wali Kota Bogor Bima Arya menyatakan, bahwa sejarah Republik Indonesia adalah sejarah tentang kebersamaan lintas generasi yang terus mengalir dari masa ke masa.

”Sejarah kebersamaan dan persatuan yang dari satu generasi ke generasi lainnya semakin kokoh dan kuat. Namun sejarah juga mencatat ancaman paling nyata dari kebersamaan Republik Indonesia ini adalah ancaman perpecahan,” kata Bima dihadapan semua yang hadir di ruang Paseban Sri Bima, Balai Kota Bogor, Rabu (16/8/2017).

Bima bercerita, sejak generasi tahun 1908, 1928, 1945, 1966 hingga saat ini ancaman yang dihadapi sama, yakni perpecahan. Padahal, bangsa Indonesia memiliki sejarah panjang dan kuat atas makna persatuan yang luar biasa, dimulai zaman Kerajaan Majapahit yang merupakan zaman keemasan, meski belum ada wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) namun telah terbentuk satu kesatuan yang nyaris tidak bisa goyah maupun koyah oleh kekuatan apapun juga. Bahkan setelah merdeka belanda masih ingin menancapkan pengaruhnya untuk memecah belah melalui politik Devide et Impera.

“Sejarah kembali mencatat bahwa perpecahan dan konflik kemudian terjadi, ancaman yang mengoyak keutuhan terjadi seiring datangnya imperialisme yang mengadu domba dan memecah belah, antar suku saling benci dan berburuk sangka. Pada tahun 1908 mulai bangkit kesadaran untuk merapatkan barisan yang dipelopori Budi Utomo, timbul pemikiran bersatu melawan imperialisme dan kolonialisme dan tahun 1928 dari seluruh penjuru Nusantara bersepakat untuk mengibarkan persatuan, bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu yakni Indonesia,” papar Bima.

Bima melanjutkan, kata Bung Karno dalam pidatonya mengatakan Bangsa Indonesia ibarat Sapu Lidi yang harus diikat, semakin kuat ikatannya semakin kokoh sapu itu membersihkan segala macam ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan.

“Sumber utama persoalan kita hari ini adalah bagaimana kita memisahkan antara apa yang sudah selesai dan yang belum selesai. Jika kita sepakat, paham dan yakin apa yang sudah selesai Insya Allah kebersamaan kita akan terus terawat sepanjang masa. Yang sudah selesai adalah empat pilar, Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, keempat itu sudah selesai. Yang belum selesai itu kemiskinan dan kebodohan serta persoalan lainnya,” sebutnya.

Pada kesempatan tersebut, Bima juga mengajak semua yang hadir untuk tidak sekedar berkutat persoalan pragmatis kekuasaan dan politik. “Mari kita mulai dari awal untuk mensucikan pikiran kita agar semangat mencari, merawat dan mengedepankan persamaan dan mengesampingkan perbedaan,” pungkasnya. []Admin




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *