Kampanye Rachmat Yasin

Pilkada Kabupaten Bogor 2018 dan Jejak Kemenangan PPP Pada Pilkada 2008 dan 2013

BOGOR-KITA.com – Politik itu cair. Ibarat bola bentuknya bundar sehingga gelindingannya tak bisa diprediksi secara presisi. Namun demikian, ada alat analisa untuk memprediksi siapa yang bakal keluar sebagai pemenang Pilkada Kabupaten Bogor yang digelar Juni 2018 mendatang.

Optimalisasi 5 Faktor

Secara teroritis pemenang pilkada ditentukan kemampuan mengoptimalkan setidaknya 5 faktor.

Faktor pertama adalah optimalisasi infrastruktur partai. Insfrastruktur partai dikatakan optimal apabila memiliki kelengkapan pengurus di semua daerah pemilihan. Dalam hal Kabupaten Bogor, pengurus partai lengkap di 40 kecamatan yang ada di Kabupaten Bogor. Kalau infrastruktur lengkap, maka tinggal bagaimana mengoptimalkannya, baik untuk memastikan suara kader dan simpartisan tidak lompat pagar ke kandidat yang diusung partai lain, dan terlibat merebut suara massa mengambang. Suara massa mengambang adalah suara pemilih pemula yang pada umumnya belum memiliki orientasi terhadap partai atau belum digarap partai lain, atau suara masyarakat yang kritis dan tidak suka terhadap partai alias golput, atau suara kader atau simpatisan partai yang gugur di putaran pertama.

Faktor kedua adalah figur. Pada tingkat kandidat, ukuran figur yang dianggap baik adalah memiliki tingkat popularitas cukup, track record dan integritas yang belum terstigma hal-hal negatif seperti korupsi dan prilaku sosial yang buruk lainnya. Soal elektabilitas biasanya baru terbentuk saat kampanye setelah pemilih membanding-bandingkan antara satu kandidat dengan kandidat lain.

Faktor ketiga adalah program. Ukurannya adalah apakah program yang dirumuskan diterima dan dianggap penting oleh masyarakat pemilih kebanyakan.

Faktor keempat adalah kemampuan mengemas program menjadi isu yang menarik dan dinilai penting oleh audiance saat dikemukakan dalam kampanye, dan mampu mem-framing program menjadi berita menarik bagi media massa karena layak jual.

Faktor kelima adalah endorser. Yang dimaksud endorser adalah pendukung kandidat. Untuk sebuah produk, endorser adalah bintang iklan. Mantan Bupati Bogor Rachmat Yasin adalah politisi yang cerdik memanfaatkan setiap tokoh yang bertandang ke Pemkab Bogor. Sejumlah nama tokoh terkenal yang pernah menjadi tamu Rachmat Yasin saat masih menjabat Bupati Bogor, baik saat acara keagamaan, maupun acara lain. Tercatat nama Rhoma Irama, KH Zaenuddin MZ, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, dan sejumlah pelawak pernah menjadi tamu Rachmat Yasin. Walau mereka datang ke Kabupaten Bogor bukan untuk kampanye, tetapi pemberitaan di media massa yang menampilkan foto mereka bersama Rachmat Yasin, membekas di ingatan publik, sehingga seolah-olah mengendorsment Rachmat Yasin saat kampanye. Endorser tentu saja tidak harus artis terkenal yang disukai masyarakat Kabupaten Bogor, tetapi bisa juga tokoh yang tidak terkenal, tetapi memiliki pengaruh di satu wilayah pemilihan tertentu. Sudah barang tentu, tokoh berpengaruh di daerah tertentu seperti anggota DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD, Kabupaten Bogor bisa berperan vital karena bisa mengambil peran sebagai pengganti kandidat yang tidak mungkin bertatap muka dengan calon pemilih di semua daerah pemilihan.

Itulah lima faktor yang mempengaruhi perolehan suara di pilkada.

Calon independen yang tidak punya infstruktur partai tentu tetap punya peluang menang. Sebab, basis suara partai pada umumnya tidak selalu menjadi faktor utama kemenangan seorang kandidat, karena partai politik di Indonesia, dan juga di Kabupaten Bogor pada umumnya, bukan partai kader. Partai kader yang menonjol hanya Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sedemikian rupa, calon independen tetap punya peluang asal mampu memainkan empat faktor lainnya, dan menjadikan basis KTP sebagai basis suara. Kandidat mana yang paling mampu optimalkan peran lima faktor tersebut berada dlam posisi paling berpeluang menang.

Kesaktian Gerindra-PKS

Setelah Pilkada DKI Jakarta banyak yang memprediksi bahwa koalisi Partai Gerindra dan PKS akan menjadi koalisi sakti yang menakutkan. Harus diakui, koalisi Gerindra dengan PKS di Pilkada DKI Jakarta memang koalisi sakti. Bayangkan, hanya dengan dua partai, pasangan Anies Baswedan – Sandiaga Uno mampu mengalahkan pasangan Basuki Tjahaja Purnama – Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot) yang diusung partai besar sekelas PDIP dan Golkar ditambah Nasdem dan hanura. Pada putaran kedua didukung pula oleh PPP, PKB.

Kedua partai ini memang pula sudah mendeklarasikan koalisi di Kota Bogor. Wacana koalisi PKS – Gerindra juga mengemuka di sejumlah daerah yang melaksanakan pilkada serentak, termasuk di Pilkada Gubernur Jawa Barat dan lain sebagainya.

Mengapa koalisi Gerindra – PKS dikatakan sakti? Karena kemenangan Anies-Sandi bukan karena pada figur Anies-Sandi melainkan karena partainya, yakni faktor Gerindra dan PKS. Asumsi ditarik dari situasi politik yang bertumpu pada isu Islam dan pribumi di satu sisi dan komunis serta kristen dan aseng di sisi lain.

Sedemikian berkecamuknya dan tegangnya perseteruan dua ideologi ini, sehingga pemilih terperosok di dalam pusarannya. Faktor figur menjadi tidak penting lagi, karena jika memilih Ahok, dinilai membahayakan masa depan Islam. Pemilih beragama Islam seolah berada dalam keadaaan terancam jika tidak mengalahkan pasangan Ahok-Djarot.

Keberpihakan PPP dan PKB pada Ahok-Djarot pada putaran kedua tidak mampu lagi menetralisir kekhawatiran pemilih beragama islam. Pemilih Islam berada dalam keadaan darurat agama, sehingga suka atau tidak suka terhadap Anies – Sandi, mereka terpaksa memenangkannya. Sebab jika tidak maka Ahok-Djarot akan menang, yang sama saja membiarkan diri terancam kristenisasi, atau berhadapan komunis yang ateis.

Namun belakangan, perseteruan ideologi, pelan pelan mulai mengalami pergeseran. Apalagi, Menko Polhukam Wiranto sudah mengumumkan akan membubarkan Hizbut Tahir Indonesia (HTI) melalui jalur hukum. Kemudian, Presiden Jokowi saat bertemu dengan pemimpin redaksi media massa di Istana Negara, tegas mengatakan akan menggebuk sipapapun yang anti-Pancasila. “Komunis kalau nongol kita gebuk,” kata Jokowi.

Langkah politik pemerintah ini secara perlahan mulai meredam perasaan terancam pemilih Islam, dan menurunkan tensi politik yan sebelumnya sangat panas. Ini artinya,cepat atau lambat suhu politik akan kembali normal. Sehingga kesaktian koalisi Gerindra dan PKS trancam berakhir.

Selain itu, kondisi pilkada tidak selalu sama dengan Pilkada DKI Jakarta. Sebab figur seperti Ahok hanya ada di Jakarta. Oleh sebab itu kesaktian Gerindra-PKS tidak berlaku umun, alias tidak bisa digeneralisasi ke semua daerah.

Lebih dari itu, belakangan berkembang opini bahwa tingginya tensi politik di Pilkada DKI Jakarta adalah karena disetting alias direkayasa, karena fakta di lapangan jauh dari apa yang diopinikan.

Pengalaman mengerasnya perseteruan ideologi di Pilkada DKI Jakarta, tentunya akan diantisipasi oleh partai di luar Gerindra-PKS dengan mengemas isu sehingga pertarungan antar kandidat tidak lagi bertumpu pada pertarungan ideologi, melainkan pada pertarungan figur dan program.

Napak Tilas Kemenangan Rachmat Yasin

Pilkada Kabupaten Bogor sudah masuk tahap utak-atik figur yang dikombinasikan dengan partai. Ada empat pasang bakal calon yang diwacanakan akan bertarung. Pertama, pasangan Jaro Ade (Ketua DPD Golkar Kabupaten Bogor) dan Adang Suptandar (Birokrat) yang diusung Partai Golkar dan PAN dengan basis 12 kursi di DPRD Kabupaten Bogor.

Kedua, pasangan Nurhayanti (Birokrat) – Bayu Syahjohan (Politisi PDIP) yang diusung PDIP – Nasdem dengan basis 10 kursi.

Ketiga, Iwan S (politisi Gerindra). – Wasto S (politisi PKS)) yang diusung Partai Gerindra dan PKS dengan basis 11 kursi.

Keempat, pasangan Ade Yasin (Politisi PPP)– Nungki (politisi mantan Ketua DPD Golkar Kabupaten Bogor) )yang diusung PPP, Partai Demokrat, Hanura dan PKB dengan basis suara 17 kursi.

Belum ada kepastian mengenai utak atik pasangan ini. Namun, kombinasi partai dan nama – nama yang dipasangkan masuk akal.

Lepas dari siapa yang akan berpasangan dengan siapa, sampai saat ini ada satu hal yang dapat dijadikan patokan dalam memprediksi calon pemenang Pilkada Kabupaten Bogor Juni 2018. Yakni, perolehan suara Pilkada 2008 dan Pilkada 2013.

Pada Pilkada 2008 ada lima pasang calon. Yakni Pasangan prtama dalah pasangan Yus Djuher dengan Rusdi A.S diusung Partai Demokrat, PKB, PKPI, dengan perolehan suara total 239.530 suara (14 %)

Pasangan kedua adalah Maman Daning dan Nurdin dari calon perseorangan dengan perolehan suara total 289.456 suara (17%)

Pasangan ketiga Soenmandjaja SD dan H. Ace Supeli diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS), PBB PKPI Hanura dengan perolehan suara total 210.437 suara (13%)

Pasangan keempat adalah Fitri Putra Nugraha (Nungki) dan Endang Kosasih diusung Partai Golkar sebagai partai utama, dengan perolehan suara total 426.994 suara (26%).

Pasangan kelima adalah Rachmat Yasin dan Karyawan Faturachman iusung PPP dan PDIP dengan perolehan suara 498.175 (kurang sedikit dari 30 %).

Tiga pasang gugur di putaran pertama. Pasangan Rachmat Yasin – Karyawan Faturachman dan pasangan Nungki – Endang Kosasih maju ke putaran kedua.

Putaran pertama, pasangan Rachmat Yasin – Karyawan Faturachman memperoleh 498.175 (kurang sedikit dari 30%). Sementara Pasangan Nungki – Endang Kosasih memperoleh 426.994 suara (26%).

Pada putaran kedua, perolehan suara Rachmat Yasin dan Karyawan Faturachman melonjak tinggi mencapai 986.009 suara (63%), jauh meninggalkan pasangan Nungki-Endang Kosasih yang hanya memperoleh 568.057 suara (37%).

Kemenangan dalam dua kali pilkada ini hampir bisa dikatakan didominasi faktor PPP dan Rachmat Yasin. Terbukti, pada Pilkada 2013 Rachmat Yasin pecah kongsi dengan Karyawan Faturachman. Rachmat Yasin berpasangandengan Nurhayanti (birokrat) sedang Karyawan Faturachman berpasangan dengan Adrian (birokrat).

Pasangan Karyawan Faturachman – Adrian yang diusung oleh PDIP hanya mendapat 193.535 suara (9,99%). Bandingkan dengan perolehan suara ketika Rachmat Yasin bepasangan dengan Karyawan Faturachman pada Pilkada 2008 di mana pada putaran pertama mampu memperoleh 498.175 kurang sedikit dari 30%, sedang pada putaran kedua memperoleh 986.009 suara (63%).

Koalisi Gerindra – PKS mungkin saja masih sakti seperti di Pilkada DKI Jakarta. Namun, apabila PPP mampu mengoptimalisasi lima faktor yang mempengaruhi pilkada, maka calon yang diusung PPP berpotensi besar memenangi Pilkada Juni 2018, karena sudah punya jejak kemenangan yang bisa di-napaktilas-i untuk kembali meraih kemenangan ketiga berturut-turut alias hatrick. [] Petrus Barus




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *