Pertarungan Ulang Bima – Ruyat, Siapa Unggul?

BOGOR-KITA.com – Munculnya pasangan Bima Arya – Dedie A Rachim dan Ahmad Ruyat -Zaenul Mutaqin sontak membuat Pilkada Kota Bogor berkembang dinamis. Bima yang semula muncul sendiri sebagai kandidat terkuat, kini memiliki lawan tanding yang setara. Jika kedua pasang ini akhirnya terealisasi, siapa yang unggul?

Kemungkinan Koalisi
Sebelumnya sudah muncul pasangan calon perseorangan yakni Edgar Suratman dan Welly Ginanjar. Menurut Ketua KPU Kota Bogor, Undang Supriatna pasangan ini sudah memenuhi syarat sebagai calon walikota dan calon wakil walikota karena sudah berhasil mengumpulkan sebanyak 51.014 dukungan.

Selain itu, tidak tertutup kemungkinan akan muncul kandidat lain. Sebab sampai saat ini baru 5 partai yang sudah terkonsolidasi, yakni PAN, Golkar dan Demokrat mengusung Bima Arya – Dedie A Rachim, dan PKS-PPP mengusung Ruyat Zaenul.

Masih ada 6 partai yang belum menentukan sikap final. Yakni, Gerindra (6 kursi), PDIP (8 kursi), Nasdem (1 kursi), PBB (1 kursi), PKB (1 kursi) dan Hanura (4 kursi).

Ada tiga kemungkinan sikap yang diambil 6 partai tersisa ini. Yakni bergabung dengan koalisi yang sudah ada, membentuk koalisi sendiri atau sebagian bergabung sebagian membentuk koalisi sendiri.

Jika bergabung ke koalisi yang sudah ada maka kemungkinan yang terjadi adalah PBB, Nasdem dan PDIP bergabung ke koalisi partai yang mengusung Bima Arya – Dedie A Rachim. Sementara Gerindra, Hanura, PKB bergabung ke koalisi yang mengusung Ruyat-Zaenul.

Jika keenam partai ini ingin membentuk koalisi baru, terbuka kemungkinan terbentuk dua koalisi baru, yakni koalisi PDIP dan Nasdem, PKB (10 kursi) dan koalisi Gerindra, Hanura, PBB (11 kursi).

Namun kemungkinan terbesar, Gerindra, Hanura bergabung ke koalisi PKS dan PPP mengusung Ruyat-Zaenul, dan PBB bergabung ke koalisi Golkar-Demokrat-PAN mengusung Bima-Dedie, PDIP dan PKB berkoalisi mengusung satu pasang calon baru.

Dengan demikian kemungkinan akan ada empat pasang calon yakni Bima-Dedie (PAN, PBB, Demokrat, Golkar, Nasdem), Ruyat-Zaenul (PPP, PKS, Gerindra, Hanura), calon baru dari koalisi PDIP-PKB dan Edgar Suratman-Welly Ginanjar dari calon perseorangan.

Ruyat-Zaenul vs Bima-Dedie
Yang sekarang menjadi perhatian adalah pertarungan antara Ruyat-Zaenul vs Bima-Dedie. Peta seru persaigan keduanya dapat dilihat dari selisih suara yang diperoleh pada Pilwakot 2013.

Bima – Usmar pada Pilwakot 2013 yang didukung PAN, Demokrat, PBB, PKB, dan Gerindra, memperoleh 132.835 suara. Sementara Achmad Ru’yat-Aim Halim Hermana yang didukung PKS, PPP, Hanura, memperoleh 131.080 suara. Selisih suara keduanya hanya terpaut 1.755 suara, sebuah angka yang sangat kecil.

Ruang perlombaan memperoleh suara masih sangat besar. Sebab, jumlah pemilih di Kota Bogor sesuai daftar pemilih tetap (DPT) sebesar 673.938 orang. Yang menggunakan hak pilihnya pada Pilwakot 2013 lalu hanya 63,4 persen saja. Selebihnya memilih golput yang mencapai sekitar 270 ribu orang.

Untuk memenangkan pertarungan, masing-masing harus berlomba mengamankan suara. Masing-masing harus berloma memperoleh suara 50% dikali DPT (673.938 orang) plus satu, yakni sekitar 336.000 suara.

Basis suara Bima – Dedie berdasarkan pilwakot 2013 adalah 132.835 suara. Dengan demikian, Bima – Dedie harus menambah 204.000 suara untuk mengamankan kemenangan. Basis suara Ruyat – Zaenul 131.080 suara, harus berupaya memperoleh sekitar 235.000 suara tambahan untuk mengamankan kemenangan.

Banyak faktor yang mempengaruhi perolehan suara. Namun sampai saat ini baru ada beberapa faktor saja, yakni, sosok figur dan faktor partai pengusung.

Dari segi figur, Bima Arya Sugiarto adalah figur yang sangat populer di Kota Bogor. Sebagai petahana, penetrasi Bima juga sudah merasuk cukup dalam ke hampir seluruh lapisan masyarakat Kota Bogor. Bima tidak hanya sudah masuk ke masyarakat di perkampungan, tetapi juga masuk ke pemilih pemula melalui kegiatan ke sekolah-sekolah. Melalui video baby shark yang banyak dicibir, Bima Arya diperkirakan juga sudah jadi perhatian ibu-ibu Kota Bogor.

Bagaimana dengan figur calon wakilnya, yakni Dedie A Rachim. Figur ini kurang atau tidak populer di Kota Bogor. Poin figur Dedie hanya terkait dengan latar belakangnya sebagai orang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pertanyannya adalah, apakah latar belakang KPK berdampak positif terhadap upaya mendulang suara?

Tentang hal ini tidak ada jawan tunggal. Di satu sisi kehadiran Dedie A Rachim bisa jadi akan mendongkrak elektabilitas Bima Arya dengan alasan, Dedie akan membantu Bima menciptakan manajemen pemerintahan yang bersih.
Tetapi di sisi lain, kehadiran Dedie bisa jadi hanya sekadar pelengkap. Sebab, Presiden Jokowi akan menerbitkan Peraturan Presiden yang mewajibkan seluruh pemerintah daerah membuat sistem e-budgeting, e-planning dan e-government.

Dengan sistem e-budgeting, e-planning dan e-government, maka semua harus terbuka. Pemerintahan yang bersih yang menjadi keinginan masyarakat, dengan sendirinya tidak lagi tergantung atau tidak lagi ditentukan oleh integritas kepala daerah, karena sudah bergeser menjadi menjadi kewajiban pemerintah.

Sebelum penerapan sistem e-budgeting, e-planning dan e-government, pemerintah memang seperti “memonopoli” informasi keuangan. Tetapi setelah sistem e-budgeting, e-planning dan e-government, informasi keuangan menjadi kewajiban pemerintah untuk membukanya kepada publik. Jika tidak, akan ada konsekuensi.

Dalam perspektif ini, kehadiran Dedie, mungkin tidak berdampak signifikan dalam membantu Bima mendulang suara yang lebih besar. Ini artinya, peran mendulang suara, tetap bertumpu pada Bima Arya.

Bagaimana dengan figur Ruyat dan Zaenul? Ruyat adalah juga figur populer di Kota Bogor. Sebelum menjadi wakil walikota, Ruyat adalah anggota DPRD Kota Bogor dan sempat satu periode menjadi Wakil Ketua DPRD Jawa Barat. Walau demikian kedalaman penetrasinya sudah barang tentu kalah dengan Bima Arya, karena sebagai petahana, Bima hampir setiap hari bisa berinteraksi dengan masyarakat.

Tetapi Ruyat berpasangan dengan Zaenul. Sebagai Ketua DPC PPP Kota Bogor dan sebagai anggota DPRD Kota Bogor, Zaenul memiliki tingkat popularitas yang tidak bisa diremehkan. Jauh hari sebelumnya, Zaenul juga sudah melakukan penetrasi melalui berbagai bentuk alat peraga yang terpajang di hampir seluruh titik strategis Kota Bogor. Zaenul adalah juga sudah cukup lama mengasah insting politiknya.

Sedemikian rupa, dari segi figur, kedua pasang masing-masing memiliki plus dan minus. Dari segi partai pengusung kedua pasang calon juga memliki plus dan minus. Bima-Dedie yang diusung Demokrat, Golkar dan PAN memliki jumlah kursi yang lebih besar ketimbang partai yang mengusung Ruyat-Zaenul yakni PKS dan PPP.

Dari jumlah kursi di DPRD Kota Bogor, koalisi partai pengusung Bima-Dedie lebih besar ketimbang koalisi partai yang menfusung Ruyat-Zaenul. Bima-Didie yang diusung (PAN, Demokrat, Golkar didukung 14 kursi, sementara Ruyat-Zaenul yang diusung PKS dan PPP didukung 10 kursi.

Namun demikian, dari keseluruhan partai politik yang eksis di Indonesia, nyaris hanya satu partai yang disebut sebagai partai kader, yakni PKS. Sebagai partai kader, maka seluruh pemegang KTA dan juga simpatisan PKS sudah dapat dipastikan akan memberikan suaranya kepada pasangan Ruyat – Zaenul.

Sementara Zaenul adalah juga Ketua DPC PPP Kota Bogor. Hal ini mempermudah Zaenul mengorganisasi dan mengarahkan kader, simpatisan dan ormas di bawah PPP, tidak saja menyoblos pasangan Ruyat – Zaenul, tetapi juga menggerakkan kader, simpatisan dan ormas di bawah PPP itu menjadi vote getter terutama ke massa mengambang yang jumlahnya mencapai 270 ribu suara.

Dari segi ini saja sudah terbayang seperti apa serunya peta persaingan antara pasangan Bima-Dedie dan Ruyat-Zaenul.
Bima mungkin juga akan menjadikan kinerjanya selama menjadi Walikota Bogor sebagai poin positif. Antara lain, kebersihan, taman, jalan satu arah, dan capaian pembangunan lainnya. Tetapi Ruyat-Zaenul juga bisa mempersoalkan kemacetan dan beberapa hal lain yang belum kunjung teratasi selama pemerintahan Bima-Usmar.

Faktor Usmar Hariman yang tidak lagi menjadi pasaangan Bima bisa menjadi poin negatif bagi Bima-Dedie. Apalagi, Usmar adalah Ketua DPC Partai Demokrat yang turut mengusung Bima-Dedie. Publik akan bertanya, mengapa Bima tidak lagi berpasangan dengan Usmar Hariman? Jika Bima tidak memberikan jawaban yang lugas tentang hal ini, maka kondisinya bisa seperti kasus PDIP dan SBY pada Pilpres 2004, di mana PDIP dinilai menzholimi SBY. Penzholiman ini kemudian berhasil mengangkat popularitas dan elektabilitas SBY dan memenangi Pilpres 2004.

Partai-partai lain yang belum menentukan sikap juga bisa mempengaruhi peta perolehan suara. Seperti apa sikap final mereka, akan terlihat paling lambat akhir pendaftaran tanggal 10 Januari 2018.

Sedemikian rupa, pertarungan ulang antara Bima dan Ruyat akan menjadikan even Pilwakot Bogor 2018 akan berlangsung seru. []Petrus Barus




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *