12

Peneliti Doktor IPB : Revitalisasi Pasar, Pemkot Diminta Tingkatkan Kapasitas Kewirausahaan Pedagang

BOGOR-KITA.com – Dinamika pasar yang sangat luar biasa terutama terkait rencana Revitalisasi Pasar Tradisional yang kerap menimbulkan pro-kontra menjadi bahan penelitian menarik bagi Akhmad Edhy Aruman. Mahasiswa Program Doktor jurusan Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (KMP) Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) ini membuat Disertasi terkait Model Komunikasi Untuk Membangun Kesiapan Perubahan Pedagang Pasar Tradisional Kota Bogor.

Disertasi tersebut kemudian dipresentasikan saat Sidang Promosi Terbuka, Senin (31/7/2017) di Gedung Sekolah Pascasarjana IPB Dramaga dihadapan para penguji yang salah satunya Wali Kota Bogor Bima Arya.

Akhmad mengatakan, sebagian besar pasar yang dibangun melalui pogram revitalisasi belum sepenuhnya berfungsi optimal. Dalam beberapa kasus revitalisasi, ada pedagang yang memprotes revitalisasi pasar. Hal tersebut karena kecenderungan sosiologis pedagang pasar tradisional yang menempatkan kecurigaan berlebihan terhadap segala bentuk pembangunan.

“Mereka menyalahartikan jika ada pembangunan berarti sewa atau pembelian kios menjadi mahal dan merugikan pedagang yang telah menempati kios sebelumnya,” ujarnya.

Penelitian ini, lanjut Akhmad, berawal dari dugaan komunikasi yang dilakukan selama rencana revitalisasi pasar cenderung satu arah. Padahal dalam kegiatan revitalisasi sangat dibutuhkan keterlibatan semua stakeholders. Penelitian lapangan pun dilakukan sejak Februari hingga September 2016 dengan responden sebanyak 559 pedagang dan pemilik kios di empat pasar.

“Dua pasar yang sudah direvitalisasi Pasar Gunung Batu dan Pasar Blok B Kebon Kembang, sementara dua pasar yang direncanakan direvitalisasi Pasar Bogor dan Pasar Blok F Kebon Kembang,” imbuhnya.

Akhmad menerangkan, dari hasil penelitiannya menunjukan penyebarluasan informasi mengenai rencana revitalisasi pasar dilakukan melalui selebaran, spanduk, papan pengumuman di pasar yang merupakan model komunikasi satu arah. Sementara komunikasi dua arahnya yakni dialog hanya dilakukan tiga kali dalam satu tahun namun tidak berlangsung secara memuaskan. Sehingga kesiapan pedagang menghadapi revitalisasi pasar masih lemah dan menimbulkan ketidaksiapan pedagang untuk berubah.

“Disini saya menyarankan Pemerintah Kota Bogor tidak lagi hanya berfokus pada sisi manajemen fisik, tetapi juga pedagangnya diberdayakan dengan meningkatkan kapasitas kewirausahaan pedagang. Serta merubah strategi komunikasi dengan melibatkan pengelola pasar sebagai sumber pesan yang kredibel,” tuturnya.

Sementara itu, Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan, sebagai pemangku kebijakan sering kali mendapatkan hambatan. Padahal, kegiatan tersebut baik tetapi penerimaanya kerap tidak baik. Terkait pasar, ini merupakan pertemuan berbagai kepentingan tidak hanya kepentingan ekonomi, tetapi juga politik. Sehingga penerima pesan tidak lagi netral dan menimbulkan pro kontra.

“Saya berharap penelitian ini dapat memberikan sumbangsing saran dari sisi akademis terkait permasalahn revitalisasi pasar,” jelas Bima. []Admin




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *