Pemimpin Itu Harus Lentur Pemikirannya

BOGOR-KITA.com – Wali Kota Bogor Bima Arya saat menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) VIII Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Kota Bogor menyampaikan bahwa regenerasi merupakan keniscayaan dan sunatullah.

“Organisasi yang gagal dalam regenerasi pasti mati, banyak kepala daerah yang gagal melakukan regenerasi maka pembangunan akan terhambat,” kata Bima di Hotel Grand Savero, jalan Pajajaran, Kota Bogor, Minggu (10/12/2017).

Menurutnya, republik ini dibangun oleh anak-anak muda yang luar biasa dan dahsyat. Puluhan tahun sejak tahun 1966, semakin tua republik ini dan upaya untuk memudakan kembali republik ini baru ada lagi setelah reformasi.

“Yang menjadi pertanyaan apakah muda itu identik tidak dengan pembaharu ? Muda otak zaman old, tidak ada artinya. Karena banyak juga yang sudah senior atau tua namun memiliki gagasan yang lentur dengan perkembangan zaman,” terangnya.

Ia menyebutkan, ada dua kata kunci dari kata AMPI, yakni Muda dan Pembaharu. Sederhana saja jika AMPI kembali ke khitahnya, menurutnya itu akan sangat dahsyat sekali.“Saya banyak mengidolakan tokoh-tokoh muda pendiri AMPI, salah satunya Akbar Tanjung,” sebutnya.

Saat ini para politisi dan aktivis kata Bima sedang dihadapi pada satu ujian berupa perubahan zaman yang demikian cepat. Ini adalah era voluntarisme, era sharing ekonomi, era sinergi dan kolaborasi. Jika politisi dan aktivis gagal membaca tanda-tanda tersebut, dimana berpolitik tidak hanya melalui jalur-jalur formal seperti zaman dulu, maka tidak akan survive (bertahan).

“Saya sering sampaikan Wali Kota tidak bisa sendiri tapi ada 5 unsur utama yang lazim saya sebut Pentahelix diantaranya, pemerintah, kampus (akademisi), bisnis, komunitas dan media. Saat ini semua masuk ke dunia maya, dari satu juta penduduk Kota Bogor sebanyak 60 persennya “melek” internet dimana 80 persennya Facebookers, 40 % twitter dan 30 % Instagram. Jika kita tidak bisa baca tanda tersebut, kita akan letih hayati dan jasmani,” ujarnya.

Ia berharap AMPI bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor bisa membaca dan menjawab tanda zaman tersebut sehingga bisa mempersiapkan pemimpin-pemimpin yang “lentur” pemikirannya dengan perkembangan zaman. “Hidup ini bukan hanya yang kita tahu tetapi lebih kepada siapa yang kita tahu,” terang Bima. []Admin




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *