Mumbai Skywalk Project

Kota Bogor akan Punya Skywalk, Seperti Apa?

BOGOR-KITA.com – Kota Bogor di bawah kepemimpinan Walikota Bima Arya terus berbenah. Kota yang sumber pendapatannya terbatas pada sektor tersier atau sektor jasa-jasa ini terus bergerak untuk memberikan kenyamanan kepada warga dan juga wisatawan.

Jalan Suryakencana yang merupakan kawasan perdagangan sedang ditata dengan membangun pedestrian atau jalan khusus untuk pejalan kaki dengan memperlebar trotoar di sisi kiri dan kanan jalan.

Pedestrian ini tidak hanya mempercantik kawasan pecinaan itu, tetapi juga membuat toko-toko yang berjejer di sepanjang jalan akan makin ramai sehingga bisa memperpanjang jam buka dari biasanya tutup pukul 17.00 WIB  sore menjadi mungkin tutup lebih sore sekitar pukul 21.00 WIB, sehingga menambah PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Kota Bogor.

Skywalk Cihampelas

Di kawasan itu, juga sudah terpasang salah satu simbol kota pintar (smart city) seperti mesin parkir meter, di mana pengguna kenderaan tidak lagi membayar parkir secara manual, tetapi sudah bisa bayar secara elektronik di mesin yang sudah tepasang dan sekarang tengah disosialisasikan.

Akhir tahun 2019 mendatang, Kota Bogor akan memiliki skywalk. Lokasinya di Jalan Kapten Muslihat. Skywalk itu memang bukan milik Pemkot Bogor, karena yang membangun adalah PT Kereta Api Indonesia. Walau demikian, skywalk itu akan melekat dan menjadi bagian fasilitas umum untuk meningkatkan kenyamanan warga Kota Bogor.

Skywalk itu bagi PT KAI berguna untuk memperlancar arus pengguna jasa kereta api yang naik dan turun di Stasiun Bogor. Skywalk akan dibangun melintang di atas Jalan Kapten Muslihat dengan titik start Jalan Paledang sampai masuk kawasan Stasiun Bogor.

Eco Skywalk di Central Park Jakarta

Antara skywalk dan jembatan penyeberangan orang (JPO) sesungguhnya sama saja, yakni sama-sama sebagai jembatan yang dibangun di atas permukaan tanah untuk menguhubungkan satu tempat ke tempat lain.

Pemkot Bogor sebelumnya memang sudah membenahi jembatan penyeberangan orang (JPO) yang juga menghubungkan Jalan Paledang dengan Stasiun Bogor. Namun harus diakui, JPO itu dibangun seadanya. JPO kesannya sekadar menjadi jembatan dengan fungsi tunggal yakni fungsi penyeberangan, sementara skywalk diimbuhi beberapa fungsi.

Oleh sebab itu, seperti skywalk di Jakarta atau kota-kota besar di dunia, Skywalk Kapten Muslihat (sebut saja demikian namanya untuk sementara ini) juga diharapkan dapat menjadi sebuah bangunan yang enak dipandang mata.

Setidaknya, tidak kering, gersang dengan anak tangga curam seperti JPO Kapten Muslihat yang ada sekarang ini. Demikian juga fungsinya, diharapkan tidak hanya sebagai jembatan penyeberangan, tetapi diimbuh sejumlah fungsi lain.

Belum ada informasi berapa panjang dan lebar skywalk yang akan dibangun. Namun wacana yang sudah berkembang, skywalk itu nantinya akan menampung sejumlah pedagang kaki lima. Jika menampung pedagang kaki lima, maka lebarnya tentunya jauh melebihi JPO yang ada sekarang.

Antara Skywalk Cihampelas dan Eco Skywalk Central Park

Walikota Bogor Bima Arya mengatakan, Insya Allah, skywalk yang melintang di atas Jalan Kapten Muslihat selesai dibangun akhir 2019 mendatang.

Seperti apa gerangan manfaat dan keelokan rupa wajahnya?

Skywalk Cihampelas Bandung, semasih dalam tahap perencanaan,  banyak yang tak sabar menunggu. Warga ingin melihat Cihampelas kian tertata dan skywalk menjadi salah satu fasiltas kota dengan sejumlah manfaat.

Tetapi setelah selesai, tidak sedikit yang mencibir. Skywalk sepanjang 450 meter dengan lebar selebar ruas jalan di bawahnya yang ditopang oleh 44 tiang pondasi itu, dinilai hanya menjadi tempat penampungan lebih 100 pedagang kaki lima.

Tak pelak muncul kritik, kalau hanya untuk memindahkan lebih 100 PKL maka biaya Rp48 miliar untuk membangun Skywalk Cihampelas dinilai terlalu mahal. Apalagi, pedagang kaki lima toh masih ada yang berdagang di bahwa skywalk.

Kritik melebar. Lazimnya, skywalk dibuat untuk menghubungkan dua gedung tinggi seperti di Minneapolis Skyway System, atau satu titik transportasi ke titik lainnya seperti di Mumbai Skywalk Project, atau untuk kepentingan turisme ekstrim seperti di Grand Canyon. Skywalk Cihampelas dinilai tidak merujuk pada kelaziman sebuah skywalk.

Lain halnya dengan eco skywalk yang menghubungkan Mal Central Park dengan Mal Neo Soho yang berlokasi tak jauh dari Mal Taman Anggrek Jakarta Barat.

Banyak orang memuji eco skywalk di Tanjung Duren Selatan, Grogol Petamburan, Jakarta Barat itu.

Selain memuji fungsinya yang memudahkan pengunjung mal berpindah dari satu tempat ke tempat lain secara nyaman, bangunannya yang didesain cantik dan membuat eco skywalk itu menjadi satu objek “wisata” tersendiri.

Terbukti skywalk itu ramai pengunjung terutama saat hari libur. Selepas berbelanja di Mal  Central Park pengunjung bisa menikmati pemandangan gedung bertingkat dari eco skywalk hingga foto selfie.

Tersedia juga area bersantai tepatnya di depan pintu masuk mal Neo Soho.

Tak heran kalau eco skywalk ini dinilai tak kalah dengan Helix Bridge yang menghubungkan Marina Centre dengan Marina Bay di Singapura.

Bagaimana dengan bakal Skywalk Kapten Muslihat?

Kita berharap tidak muncul kritik seperti Skywalk Cihampelas. Skywalk Kaptem Muslihat juga diharapkan tidak sekadar mengakomodasi kepentingan PT KAI terkait kemudahan atau kelancaran arus masuk dan keluar pengguna jasa kereta api, dan menjadi area komersial yang disewakan kepada pedagang kaki lima.

Kita berharap Skywalk Kapten Muslihat  juga dapat menjawab kesemrawutan yang ada di kawasan itu, elok dipandang mata, sekaligus menjadi objek “wisata” tersendiri, setidaknya menjadi tempat bagus untuk selfie dengan background Taman Topi yang pada saat bersamaan juga akan ditata oleh Pemkot Bogor. [] Petrus Barus.

 



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *