Istana Bogor

Istana Bogor Sejatinya Bangunan Sederhana, Rumah Singgah Sebelum Melanjutkan Perjalanan ke Istana Cipanas

BOGOR-KITA.com – Telah sering ditulis bahwa adanya istana di kawasan Kebun Raya Bogor itu merupakan gagasan Gubernur Jenderal Baron van Imhoff. Dugaan tersebut sebenarnya kurang tepat, karena Van Imhoff tidak pernah merencanakan bangunan permanen di tempat itu, melainkan hanya bangunan sederhana yang dimaksudkan untuk singgah beristirahat dalam perjalanan dari benteng Batavia ke Istana Cipanas. Demikiahlah lahan bangunan sederhana tersebut diberinya nama “Buitenzorg” yang artinya tanpa-kesibukan atau tanpa-urusan.

Dengan Surat Keputusan Dewan Direksi VOC di Amsterdam tanggal 7-6-1745, lahan di sekitar “Buitenzorg” diusulkan Van Imhoff dijadikan “eigendom” Van Imhoff dan para Gubernur Jenderal selanjutnya in officio. Dengan demikian Tanah Buitenzorg ini dijadikan semacam tanah bengkok yang harus dibeli oleh tiap Gubernur Jenderal baru kepada pejabat lama yang digantikannya. Batas-batas Buitenzorg adalah: Puncak Gunung Gede – Puncak – Talaga Warna – Mega Mendung – Ciliwung – Muara Cihideung – Puncak Gunung Salak.

Dokumen tertua yang menampilkan nama Bogor berasal dari Tanggal 7 April 1752. Dalam tahun tersebut ibukota Kabupaten Bogor masih berkedudukan di Kota Baru. Dua tahun kemudian barulah Bupati Demang Wiranata mengajukan permohonan kepada Gubernur Jenderal Jacob Mossel agar diizinkan mendirikan rumah tempat tinggal di Sukahati di dekat Buitenzorg

Dengan kepindahan bupati dari Tanah Baru ke Sukahati (empang), kesibukan urusan pemerintahanpun berpindah juga. Pasar (seminggu sekali) segera dibuka dan menjadi ramai. Kemajuan pasar mengundang para pedagang untuk bermukim, termasuk kemudian orang-orang Cina. Mula-mula para pedagang ini menempati lereng Ciliwung di daerah Lebak Pasar. Baru kemudian berangsur-angsur ada yang merayap naik ke sepanjang Jl. Suryakancana.

Bila kita perhatikan, kampung-kampung atau pemukiman awal yang menjadi inti pertumbuhan Kota Bogor, yaitu Lawang Gintung (yang pertama), Lebak Pasar, Baranang Siang (dekat “Pulo Geulis”), Bogor, Gudang dan Sukahati (sekarang : Empang), semuanya terletak pada lahan yang “menempel” pada tepi bagian luar bekas benteng Pakuan. Tempat-tempat itu tumbuh laksana sirung atau tunas pohon di sekitar tunggul pohon induknya. Pertumbuhan kota Bogor seolah-olah “berakar” pada sisa-sisa benteng Pakuan. [] Admin




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *