Ridwan Kamil

Ini Peluang Ridwan Kamil Pecahkan “Telur Busuk” PDIP di Pilgub Jabar 2018

BOGOR-KITA.com – Walau belum resmi diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), namun nama Walikota Bandung Ridwal Kamil sudah santer disebut sebut akan diusung oleh partai pimpinan Megawati Soekarnoputri itu. Akankah Ridwal Kamil jadi pahlawan kemenangan PDIP di Jawa Barat, setelah dua kali dipecundangi Partai Keadilan Sejahtera (PKS)?

Infrastruktur Kuat

Infrastruktur PDIP di Jawa Barat harus diakui cukup kokoh. Betapa tidak, partai berlambang kepala banteng mocong putih dalam lingkaran bulat ini selalu mampu memperoleh kursi dalam jumlah besar di DPRD Jawa Barat. Pada Pemilu 2004, PDIP mampu meraup 3.640.703 suara atau 19 kursi di DPRD Jabar. Perolehan suara itu merupakan yang terbesar kedua setelah Partai Golkar yang meraih 5.775.002 suara atau 28 kursi DPRD Jabar.

Jumlah suara ini terpaut satu juta suara lebih dibandingkan raihan suara PKS yang mencapai 2.407.982 suara atau 14 kursi, dan lebih jauh lagi terpaut dengan suara PPP 2.186.373 suara atau 13 kursi, dan Partai Demokrat 1.610.093 atau 9 kursi,
PAN 8 kursi, PKB 6 kursi, dan PDS, PBB, dan PKPB masing-masing memperoleh 1 kursi.

Pada Pemilu 2009, suara PDIP mengalami penurunan, tetapi statusnya meningkat menjadi partai yang meraih suara terbanyak di DPRD Jabar dengan raihan 17 kursi. Golkar yang semula jawara turun ke peringkat dua dengan raihan 16 kursi. Sementara PKS naik satu kursi dari 12 kursi pada pemilu 2004, menjadi 13 kursi pada Pemilu 2009.

Pada Pemilu 2014, PDIP kembali berjaya dan berhasil mempertahankan posisi di peringkat satu meraih 20 kursi di DPRD Jabar. Jumlah kursi ini terpaut 3 kursi dengan Partai Golkar yang meraih 17 kursi dan duduk di pertingkat kedua.
Raihan kursi PKS turun dari 13 pada pemilu 2009 menjadi 12 kursi pada Pemilu 2014.

Perolehan kursi yang bertahan di posisi tinggi ini merupaklan bukti bahwa infrastruktur politik PDIP di Jabar sangat kuat. Dengan perolehan suara yang besar dari satu pemilu ke pemilu, PDIP masuk kategori partai yang cukup mengakar di Jabar.
Lalu mengapa PDIP keok dalam dua kali Pemilihan Gubenur (Pilgub) Jabar, yakni Pilgub 2008 dan 2003? Keok malah bukan dari Partai Golkar yang hanya setingkat di bawahnya, tetapi dengan PKS yang beberapa tingkat di bawahnya.

Soliditas Organisasi

Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi perolehan suara dalam setiap pemilu, baik pemilu presiden, pemilihan gubernur maupun pimilihan walikota dan bupati.
Pertama, faktor infrastruktur partai sebagai mesin utama pendulang suara di basis massa. Infrastruktur ini terkait dengan keluasan jangkauan partai ke seluruh daerah pemilihan dan kelengkapan pengurus.
Kedua, faktor figur terkait popularitas figur dan elektabilitasnya.
Ketiga, faktor isu atau program terkait kecocokan isu atau program dengan kondisi sosial politik, ekonomi, budaya setempat.
Keempat, faktor soliditas organisasi terkait kekompakan pengurus cagub yang dijagokan.
Secara selintas, faktor insfrastruktur partai tidak perlu diragukan, terbukti dari kehebatan PDIP dalam setiap pemilu legislatif.
Faktor figur, juga tidak kalah hebat. Siapa yang tidak kenal Agum Gumelar yang menjadi Cagub PDIP pada Pilgub 2008? Sebagai seorang jenderal top, dan punya nama di tingkat nasional, Agum Gumelar yang kelahiran Tasikmalata, adalah putra daerah tulen, sehingga menjadi figur kebanggan pemilih Jabar.

Dibandingkan dengan Ahmad Heryawan (Aher) yang diusung PKS, popularitas Agum lebih tinggi. Senioritas Agum seharusnya membuat elektabilitasnya juga lebih tinggi dibanding Aher.

Faktor isu dan program, sesungguhnya tidak terlalu penting, karena basis suara PDIP di Jabar sudah bagus sebagaimana terlihat dari konsistensi perolehan kursi di DPRD Jabar yang selalu tinggi.

Ketika berhadapan dengan PKS, yang dikenal sebagai dua partai yang berkarakter berbeda, maka sintimen kepartaian menjadi lebih menonjol ketimbang program. Program tetap penting tetapi sifatnya lebih untuk memperluas jangkauan ke pemilih non partisan atau massa mengambang (floating mass).

Sosok Agum Gumelar sendiri seharusnya sekaligus menjadi endorser yang sangat mumpuni.
Oleh sebab itu, faktor yang diduga menjadi faktor utama penyebab kekalahan Agum dalam Pilgub Jabar adalah faktor soliditas organisasi.

Dalam faktor ini terdapat sejumlah sub faktor teknis, seperti tidak jalannya organisasi di sejumlah daerah pemilihan, tidak turunnya vote getter atau juru kampanye yang diandalkan di satu daerah tertentu, endorsement yang tidak tepat ke pemilih massa mengambang, kurangnya kemampuan teknis mengemas atau memframing isu, dan lain sebainya. Sub faktor mana yang paling kurang, hanya internal PDIP yang mengetahuinya secara persis.

Penyebab kekalahan Diyah Pitaloka aliasn Oneng yang berpasangan dengan Teten Masduki pada Pilgub 2014, diperkirakan juga masih berkisar pada faktor yang sama. Kalau semula, Agum dikatakan kalah karena faktor keartisan Dede Yusuf yang tampil sebagai calon wakil gubernur, maka posisi Diyah Pitaloka yang sangat terkenal dengan senitron Bajay Bajuri, secara tidak lanfsung sudah diperbaiki karena keartisannya selevel dengan Dedy Mizwar yang tampil sebagai calon wakil gubernur mendampingi Aher pada Pilgub 2013.

Sosok Teten Masduki yang terkenal sebagai pemimpin Indonesian Corruption Watch (ICW), sosok pejuang anti-korupsi, bahkan menjadi nilai tambah yang kuat, karena secara tidak langsung menjadi endorser yang hebat untuk menjangkau dan meraup suara massa mengambang.
Bahwa, Diyah Pitaloka dan Teten Masduki akhirnya keok juga di hadapan pasangan Aher – Deddy Mizwar pada Pilgub 2013, diduga lagi lagi karena soliditas organisasi pemenangan PDIP yang tidak tertata dengan baik.

Ridwan Kamil

Bagaimana Ridwan Kamil? Walikota Bandung ini memang belum pasti diusung oleh PDIP, walaupun sudah santer disebut-sebut. Sendainya PDIP akhirnya mengusung Ridwal Kamil, maka lawan tandingnya jelas tidak sehebat Aher. PKS sudah menyebut dua nama, yakni Netty Heryawan dan Ahmad Syaikhu. Lawan tanding lain adalah Bupati Purwakarta yang juga Ketua DPD Partai Golkar Jabar, Dedy Mulyadi.
Mungkin masih ada bakal lawan tanding lain dari Partai Demokrat.

Tetapi dua lawan tanding ini, yakni Dedy Mulyadi dan Netty Heryawan atau Ahmad Syaikhu, adalah lawan tanding yang posisinya setidaknya tidak di bawah Ridwal Kamil. Dari segi popularitas Ridwal Kamil jelas di atas Deddy Mulyadi dan Nety atau Ahmad Syaikhu. Dari tiga nama ini, adalah Ridwan Kamil yang pernah disebut-sebut dijagokan jadi Calon Gubernur DKI Jakarta.

Namun demikian, Ridwal Kamil tentunya sangat tidak bisa meremehkan terutama Nety atau Ahmad Syaikhu. Sebab sebagai partai kader, PKS tidak selalu meletakkan kekuatan pada faktor figur, melainkan pada kekuatan mesin partai dan kekuatan mengendorse massa mengambang, baik melalui figur partai koalisi maupun dengan isu atau program. Kemampuan PKS mengemas isu atau mem-framing isu menjadi kekuatan tersendiri pula.

Demikian juga Dedy Mulyadi, yang juga sangat tidak bisa diremehkan mengingat keberadaannya sebagai Bupati Purwakarta yang nyaris
tiada cela selama dua periode. Keberaniannya melawan FPI dan keberaniannya menyebut-nyebut Sunda Wiwitan, memperlihatkan sosoknya yang diyakini sudah memiliki hitung-hitungan politik yang matang.

Dari semua itu, mengingat suara PDIP dengan 20 kursi di DPRD Jabar sekarang, maka di atas kertas Ridwan Kamil tetap unggul. Sebab dari segi program, Ridwan Kamil yang jebolan ITB dan perguruan tinggi di Amerika, diyakini tidak akan kalah hebat dibanding lawan tanding lain.

Selama menjadi Walkikota Bandung, Ridwal Kamil juga sudah terbukti mampu mengemas isu atau mem-framing isu atau program menjadi berita yang layak “jual”.

Belum lagi keberadaan Jokowi yang secara tak langsung akan menjadi vote getter bagi Ridwan Kamil.

Sedemikian rupa, Ridwal Kamil memiliki peluang menang sekaligus menjadi pahlawan yang berpeluang memecahkan telor busuk PDIP yang selalu kalah di Pilgub Jabar.

Kalau kalah, masalahnya, klasik, yakni mesin partai PDIP kembali tidak solid. Kalau mesin partai PDIP solid, dan Ridwan Kamil masih kalah, maka faktornya kemungkinan dua, yakni sudah takdir PDIP selalu kalah di Pilgub Jabar, atau kekuatan lawan tanding yang tak terantisipasi. [] Petrus Barus