Diskusi Nyentrik di Terminal Baranangsiang yang Riuh dan Kumal

Bima dalam diskusi di Terminal baranangsiang

BOGOR-KITA.com – Rasanya tidak pernah ada diskusi yang digelar di sebuah terminal yang suasanya hiruk pikuk. Apalagi tema bahasannya berat. Tetapi itulah yang terjadi pada Minggu (5/4/2015). Adalah Koalisi Mahasiswa (KOMA) se-Kota Bogor yang punya hajat menggelar diskusi di dalam area Terminal Baranangsiang, Minggu (5/4/2015) sore.

Pembicaranya tidak main-main, salah satunya adalah orang nomor satu di Kota Bogor, yakni Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto. Pembicara lainnya tidak kurang mentereng, meliputi Ketua Yayasan Satu Keadilan yang juga Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPN) Peradi Sugeng Teguh Santoso, anggota Komisi II DPR RI Diah Pitaloka,  Dekan Fakultas Pertanian IPB Dr Eman Riadi, dan dosen Universitas Pakuan, RM Mihradi. Temanya juga tidak main-main, yakni soal optimalisasi Terminal Baranangsiang yang sudah tertunda tiga tahun.

Puluhan peserta hadir dalam acara itu. Salah satunya adalah anggota DPRD Kota Bogor Fraksi Partai Golkar, Yus Ruswandi. Selebihnya adalah komunitas pengguna Terminal Baranangsiang seperti pengasong, pedagang kaki lima, pengamen, sopir, kenek, timer  dan lain sebagainya.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi niscaya tersenyum atau mungkin juga bangga bila menyaksikan seorang walikota berkenaan hadir dan tampil bersemangat di tempat seperti itu, yang ibarat bumi dan langit bila dibandingkan dengan aula sebuah hotel.

Betapa tidak ruang diskusi itu memang disebut aula. Tetapi kondisinya sudah sangat jauh untuk layak disebut aula. Mencapai aula setiap orang harus melalui jalan dalam terminal yang sebagian masih digenangi air. Semuanya harus siap meliuk-liuk di sela-sela deretan bus yang parkir. Tangga menuju aula juga kumal. Ubin bangunan juga sudah tua, yang warnaya sudah tak karuan. Kursi merah tempat duduk peserta sudah dimaka usia. Panitia tampaknya sengaja menutupi sebagian dinding bangunan dengan kain untuk menutupi kumal.

Bangunan itu awalnya tertutup. Tetapi kini sudah seperti aula terbuka, karena jendela-jendelanya sudah jebol. Setiap orang bisa menyaksikan hiruk pikuk yang terjadi di bawah, sekaligus memandang ke sejumlah bangunan lain yang juga sudah kumal.

Suara walikota dan pembicara lain saling bersahutan dengan klakson bus yang sibuk di bawah, ditimpali suara kenek yang berteriak memanggil-manggil penumpang.

Namun demikian diskusi berjalan efektif, bersemangat, dan banyak mengungkap hal-hal yang sebelumnya belum terungkap. (Baca: http://bogor-kita.com/index.php/menu-kota-bogor/1253-underpass-salah-satu-alasan-walikota-menggantung-optimalisasi-terminal-baranangsiang) [] Boy/Fika




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *