Dapil Bogor, Jangkar Pengaman Kemenangan Jokowi–Ma’ruf

BOGOR-KITA.com – Jokowi seolah sudah menyatu dengan Bogor. Ia mengoptimalisasi Istana Bogor sebagai tempat rapat, menerima tamu negara, dan juga kediaman. Jokowi juga melakukan sejumlah kegiatan di Bogor. Ia misalnya tak segan bawa cucu mengunjungi Transmart milik Chairul Tandjung di bilangan Yasmin yang baru beberapa hari dibuka. Tak sungkan menghadiri resepsi pernikahan anak tukang kebun Istana Bogor yang lokasinya tak bisa dijangkau mobil. Jokowi juga tak mempersoalkan banyak warga yang masuk istana dalam rangka Istana Bogor Open. Terkait moda angkutan, Jokowi bahkan pernah menumpang kereta api dari Bogor ke Sukabumi. Yang belum tampak adalah kedekatan Jokowi dengan wartawan lokal Bogor atau wartawan media nasional yang bertugas di Bogor.

Secara politik, Jokowi beberapa kali melakukan kegiatan di Bogor. Ia bertemu dengan ulama muda di Bogor, menghadiri rapat umum relawan di Sentul, menghadiri pertemuan ulama di Gedung Tegar Beriman yang lokasinya berada di Kompleks Perkantoran Pemda Bogor, Cibinong.

Mengapa Jokowi banyak melakukan aktivitas di Bogor? Apakah untuk menyaingi Prabowo yang juga tinggal di Bogor? Alasan ini masuk akal karena pada Pilpres 2014 lalu, Jokowi kalah telak dari Probowo di daerah pemilihan Kota dan Kabupaten Bogor.

Ingin Dekat Dengan Warga Bogor
Banyaknya aktivitas yang dilakukan Jokowi di Bogor tampaknya dilatari sejumlah alasan. Mungkin saja hal itu terkait dengan dengan iklim Bogor yang sejuk. Mungkin juga karena suasana Bogor yang tidak riuh seperti Jakarta. Apalagi Istana Bogor cukup jauh dari jalan raya, sehingga teriakan lantang pendemo misalnya, akan sulit didengar sampai ke dalam ruang Istana Bogor. Beda dengan Istana Negara, di mana teriakan pendemo mudah menembus tembok istana. Tingkat kemacetannya juga tidak separah Jakarta. Selain itu, banyaknya aktivitas Jokowi yang dilakukan di Bogor, tampaknya terkait dengan keinginan lebih dekat dengan warga Bogor seperti Prabowo yang tinggal di Hambalang, Kabupaten Bogor.

Langkah Jokowi mengoptimalisasi Istana Bogor sebagai tempat beraktivitas, memang menguntungkan secara politik. Sebab, menyatunya Jokowi dengan Bogor berpotensi mengubah opini warga Bogor tentang Jokowi. Walau Jokowi anak Solo, tetapi karena aktivitasnya banyak dilakukan di Bogor, membuat warga Bogor merasa dekat dengannya.
Kedekatan ini tentu saja berpengaruh secara politik. Pada Pilpres 2019 mendatang misalnya perolehan suara Jokowi berpotensi melonjak di daerah pemilihan (dapil) Bogor.

Suara warga Bogor kota dan kabupaten tidak bisa diremehkan. Bogor (kota dan kabupaten) memang hanya dua daerah setingkat kabupaten dan kota. Tetapi jumlah pemilihnya sangat besar. Daftar Pemilih Tetap (DPT) Kota Bogor pada Pilkada 2018 lalu mencapai 674.310 pemilih. Sedangkan DPT Kabupaten Bogor mencapai 3.294.825 pemilih.

Gabungan DPT Kota dan Kabupaten Bogor mencapai hampir 4 juta pemilih, persisnya 3.969.135 pemilih. Jumlah ini sangat besar. Betapa tidak, berdasarkan data KPU, hanya sembilan provinsi yang memiliki DPT 2018 di atas 4 juta.

Kesembilan provinsi itu adalah Jabar (31.730.039 pemilih), Jatim (30.385.739), Jateng (27.348.878), Sumatera Utara (9.202.967), DKI Jakarta (7.218.280), Sulawesi Selatan (5.927.589), Lampung (5.701.136) dan Banten (4.275.415).

Ini berarti gabungan DPT Bogor Kota dan Kabupaten melebihi DPT sebagian besar provinsi yang ada di Indonesia. Gabungan DPT Kota dan Kabupaten Bogor hanya sedikit di bawah DPT Provinsi Banten.

Dekat dengan Bogor dengan demikian dekat dengan 4 juta suara. Dekat dengan 4 juta suara berarti menyimpan potensi perolehan suara Jokowi-Maruf melonjak di dapil Bogor kota dan kabupaten.

Pilpres 2019
Pada Pilpres lalu suara warga Bogor kota dan Kabupaten lebih banyak memberikan suara ke Prabowo-Hatta.

Di Dapil Kota Bogor misalnya, Jokowi-JK hanya memperoleh 210.578 atau 38,23 persen suara, sedang Prabowo – Hatta memperoleh 340.286 suara atau 61,77 persen.

Di Dapil Kabupaten Bogor, Jokowi – JK memperoleh 852.888 suara atau 34.27 persen, sedang Prabowo – Hatta memperoleh 1.636.134 suara atau 63.73 persen.

Jika dijumlahkan, Jokowi – JK hanya memperoleh 1.063.466 suara di Dapil Kota dan Kabupaten Bogor. Sedang Prabowo – Hatta memperoleh 1.976.420 suara. Jokowi – JK kalah telak dibanding Prabowo – Hatta.

Apa yang membuat Prabowo-Hatta mampu meraup suara warga Kota dan Kabupaten Bogor? Salah satunya tentunya karena keberadaan Prabowo yang tinggal di Bogor, di daerah Hambalang Kabupaten Bogor.

Oleh sebab itu, kedekatan Jokowi dengan warga Bogor kota dan kabupaten berpotensi meningkatkan perolehan suara Jokowi pada Pilpres 2019 mendatang.

Apalagi, Jokowi berpasangan dengan Maruf Amin yang merupakan Rais Aam atau pimpinan tertinggi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Islam Bogor itu sendiri dikenal lebih dekat dengan NU yang terlihat dari sejumlah pondok pesantren yang banyak terdapat terutama di Kabupaten Bogor.

Kedekatan Jokowi dengan warga Bogor ditambah keberadaan Maruf Amin sebagai Rois Aam PB NU berpotensi mengubah peta perolehan suara di Dapil Kota dan Kabupaten Bogor, yang secara otomatis mengubah peta perolehan suara secara nasional pada Pilpres 2019 mendatang.

Jika pada Pilpres 2014 lalu Prabowo-Hatta mampu meraup 1.976.420 suara sah di Kota dan Kabuptaen Bogor, sementara Jokowi-JK hanya 1.063.466 suara sah, maka pada Pilpres 2019 mendatang posisinya mungkin berbalik, di mana Jokowi – Maruf Amin mungkin memperoleh 2 juta suara, sedang Prabowo – Sandy mungkin akan mengalami penurunan perolehan suara yang kemungkinan bisa mencapai sekitar 1 juta dari suara.

Jika lonjakan perolehan suara Jokowi-Maruf sebanyak satu suara ini terjadi, akan memperkecil kekalahan Jokowi di Jabar.

Sebab, pada Pilpres 2014 lalu, di Dapil Jabar, Jokowi-JK hanya memperoleh 9.530.315 (40,22 %) suara. Sedang Prabowo – Hatta memperoleh 14.167.381 (59,78%) suara. Jokowi -JK kalah telak dengan selisih suara mencapai 4.937.066 suara.

Jika pada Pilpres 2019 Jokowi-Maruf-Amin mampu meningkatkan perolehan suara di dapil Bogor Kota dan Kabupaten dari hampir satu juta pada Pilpres 2014 menjadi 2 juta suara saja pada Pilpres 2019, maka dapil Jabar tidak lagi dihegemoni Prabowo melainkan mulai terjadi perimbangan.

Sebab dengan peningkatan satu juta suara saja dari dapil Bogor Kota dan Kabupaten, menjadi 2 juta suara, perolehan suara Jokowi-Maruf Amin di Dapil Jabar akan menjadi 10.530.315, sedang perolehan suara Prabowo-Sandy dengan sendirinya turun dari 14.167.381 suara menjadi 13.167.381 suara.

Walau Prabowo – Sandy tetap terbesar di Jabar, tetapi peningkatan perolehan suara Jokowi-MNaruf di Dapil Bogor kota dan Kabupaten akan berpengaruh cukup signifikan terhadap persentasi perolehan suara Jokowi-Maruf secara nasional.

Seperti diketahui Jokowi-JK memenangi Pilpres 2014 hanya dengan selisih suara 8.421.389 suara secara nasional.

Jokowi-JK memperoleh 70.997.851 (53,15 persen), sedang Prabowo-Hatta memperoleh 62.576.444 (46,85 persen).

Selisih suara kemenangan Jokowi – JK secara nasional terpaut hanya sekitar 3,5 juta suara dengan selisih suara kemenangan Prabowo -Hatta di Dapil Jabar.

Oleh sebab itu, jika perolehan suara Jokowi-Maruf Amin meningkat satu juta suara saja di dapil Bogor Kota dan Kabupaten, maka akan berpengaruh signifikan terhadap persentasi perolehan suara Jokowi – Maruf Amin secara nasional, karena persentasi perolehan Prabowo – Sandy dengan sendirinya menurun, dengan catatan perolehan suara keduanya di dapil lain sama dengan hasil Pilpres 2014.

Pertanyaannya, bagaimana prediksi perolehan suara kedua capres di daerah pemilihan lain di Indonesia?

Mengacu pada Pilkada Gubernur 2018, kubu PDIP unggul dibanding kubu Gerindra. Bahkan Pilgub Sulsel 2018 lalu dimenangi oleh calon yang diusung PDIP. Dua Pilgub sebelumnya dimenangi oleh kader Golkar.

Peta partai koalisi pendukung Jokowi – Maruf Amin dikaitkan dengan pilkada 2018 yang disebut sebagai pemanasan Pilpres 2019, lebih menguntungkan kubu Jokowi.

Pilgub Jabar misalnya, dua kali pilgub sebelumnya dimenangi kader PKS (koalisi pendukung Prabowo). Sementara pada pilgub 2018 dimenangi Ridwan Kamil yang diusung PPP, Nasdem, PKB yang merupakan partai koalisi pendukung Jokowi-Maruf Amin.

Satu-satunya daerah dengan DPT besar yang dimenangi Partai Demokrat (kubu Prabowo) adalah Pilgub Jatim. Kemenangan Koffifah antara lain karena pengaruh Gubernur Jatim Soekarwo yang merupakan kader Demokrat.

Namun di daerah itu terjadi dinamika, karena Soekarwo memiliki sikap yang berbeda terhadap Prabowo – Sandy. Awalnya Soekarwo mengatakan sebagian Demokrat ke kubu Jokowi. Tetapi belakangan, setelah Prabowo resmi berpasangan dengan Sandy dan Demokrat di saat terakhir memilih berkoalisi dengan partai pendukung Prabowo-Sandy, Soekarwo menyatakan sikap dengan kalimat no comment.

Sedemikian rupa, dapil Bogor kota dan kabupaten dengan total DPT mencapai 4 juta suara menjadi jangkar yang cukup signifikan sebagai pengaman kemenangan Jokowi-Maruf pada Pilpres yang digelar April 2019 mendatang. [] Petrus Barus



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *