Calon Bupati Bogor Ade Yasin: Berempati Kepada Bisikan Hati Rakyat

“Lamun warga mah teu hese teh. Nu penting, kumaha carana dapur bisa ngebul, anak bisa sakola, terus lamun sakit urang bisa diubaran.”
Kata-kata masyarakat ini terus terngiang di dalam benak Calon Bupati Hj. Ade Yasin, S.H., M.H. Kata-kata ini pula yang membuatnya semakin terdorong mengikuti proses Pilkada Kabupaten Bogor yang diadakan pada bulan Juni 2018.
“Keinginan Rakyat itu sangat sederhana, kita semua punya tanggungjawab moral untuk membantu rakyat mencapai keinginannya yang sederhana itu.” Kata Ade Yasin.

BOGOR-KITA.com – Berawal dari seorang aktivis, pemilik nama lengkap Ade Munawaroh Yasin ini sukses mengepakkan sayapnya di dunia hukum dan politik.  Kesukaannya dalam berorganisasi berhasil mengantarkan Ade Yasin, sebagai Calon Bupati Bogor 2018 dan menjadi salah satu tokoh wanita berpengaruh di Bogor.

Ade Yasin memulai karirnya dari seorang pengacara muda. Selama 11 tahun, ia berhasil menangani banyak kasus pidana dan perdata. Totalitas menjadi kuncinya dalam bekerja.

Prinsip itu pula yang membuatnya berhasil memuncaki karir sebagai seorang pengacara.  Sampai akhirnya tawaran menjadi seorang anggota legislatif pun datang dari sang kakak Rachmat Yasin (RY) yang saat itu menjabat sebagai Bupati Bogor sekaligus pimpinan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tingkat Kabupaten Bogor.

Untuk mengisi kuota keterwakilan 30 persen, Ade Yasin diminta agar mencalonkan diri jadi anggota DPRD Kabupaten periode  2009-2014. Ibarat artis, Ade Yasin saat itu sedang naik daun dalam karirnya di jalur hukum.

Tentu saja tidak mudah memutuskan diri untuk  menanggalkan profesinya sebagai pengacara. Karena, sejak 1999 Ade Yasin sudah sudah malang melitang berkarir di jalur hukum. Mulai dari bekerja di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) hingga membuka kantor sendiri di wilayah Jakarta dan Bogor.

Bukan perkara mudah melepaskan semua yang telah diraihnya sedari nol lagi. Ia pun sempat menolak tawaran tersebut, sampai akhirnya panggilan hati itu datang.

“Niat saya itu (pindah haluan-red) karena ingin bermanfaat untuk masyarakat. Akhirnya saya bilang, oke saya mau mencalonkan diri. Tapi saya harus menang. Dan alhamdulillah, walaupun suaranya pas-pasan (Pileg), saya bisa duduk di kursi dewan,” ungkap Ade Yasin sambil tersenyum.

Sejak saat itu, Ade Yasin meninggalkan profesi pengacara dan totalitas menjadi seorang politisi. Seperti kata pepatan: hasil tak pernah mengkhianati usaha, maka totalitas Ade Yasin dalam bekerja sebagai wakil rakyat membuahkan hasil. Bahkan, ilmu hukum yang dipelajarinya pun sangat membantu tugasnya di DPRD.

“Kebetulan saya lulusan sarjana dan magister hukum.  Jadi, ketika saya membahas anggaran atau Perda yang banyak berkaitan dengan undang-undang, alhamdulillah tidak ada kesulitan,” tegasnya.

Perempuan kelahiran Bogor 29 Mei 1968 ini mampu menunjukan eksistensinya di dunia politik. Politisi muda yang dulu sempat dianggap bau kencur, sekarang sudah menjelma menjadi sosok perempuan  yang paling berpengaruh di Bumi Tegar Beriman. Selama dua periode Ade Yasin dipercaya menjadi wakil rakyat di daerah pemilihan (Dapil) I, meliputi Cibinong, Citeureup, Babakanmadang, Bojonggede, dan Sukaraja.

Jabatan yang didudukinya juga tidak sembarangan. Mulai dari Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bogor hingga didapuk sebagai Ketua DPW PPP Provinsi Jawa Barat yang membawahi 26 DPC PPP tingkat kota/kabupaten. Bahkan di sejumlah organisasi, Ade Yasin juga dipercaya menempati posisi penting. Salah satunya menjadi Dewan Penasihat Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Dewan Pembina Karang Taruna Jabar.

Segudang pengalaman tersebut kini menjadi poin plus bagi Ade Yasin bersaing di bursa Pemilihan Bupati (Pilbup) Bogor 2018. Apalagi melihat sepak terjangnya yang berhasil memimpin partai sekaligus menyatukan semua kadernya di tengah konflik.

“Saya sebenarnya tidak punya cita-cita terjun di politik apalagi sampai jadi anggota dewan dan sekarang mau maju di Pilkada. Tapi memang inilah jalannya. Tinggal sekarang saya jalankan dengan benar dan totalitas. Jadi bisa dibilang saya ini tersesat di jalan yang benar,” katanya.

 EMPAT PROGRAM PRIORITAS ADE YASIN

Setelah melewati proses pemantapan diri selama setahun, ditambah dukungan keluarga, suami dan keinginan masyarakat, Ade Yasin sudah mantap menjadi calon kepala daerah. Karena kembali ke niat awal bahwa ia ingin bermanfaat bagi masyarakat di tanah kelahirannya.

“Saya ingin memperbaiki apa yang kurang dan belum dilakukan. Kalau kita belum jadi pemimpin daerah, maka kita cuma bisa menyarankan. Tapi kalau kita jadi pemimpinnya maka kita yang punya kendali untuk mengeksekusi sebuah persoalan,”sebutnya.

Ada empat skala prioritas yang menjadi perhatiannya dan tertaung dalam visi misinya maju di Pilbup 2018.

Yakni terkait pengentasan kemiskinan, perbaikan sektor pendidikan, pelayanan kesehatan dan peningkatan infrastruktur.  Menurutnya empat hal pokok itu perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah terutama seorang kepala daerah yang berperan penting sebagai penentu kebijakan.

“Saya suka tanya ke ibu-ibu seperti apa sosok bupati yang mereka inginkan. Lalu mereka jawab “Lamun warga mah teu hese teh. Nu penting,  kumaha carana dapur bisa ngebul, anak bisa sakola, terus lamun sakit urang bisa diubaran,”ujar Ade Yasin menirukan ucapan kebanyakan warga yang ditemui.

Dari pengakuan warga itulah,  Ade Yasin merumuskan visi-misinya dalam empat skala prioritas. Termasuk peningkatan infrastruktur yang dianggap akan mempengaruhi tercapainya tidak harapan masyarakat terhadap tiga persoalan tersebut.

Beberapa solusi yang ditawarkan Ade Yasin pun dibeberkan. Diantaranya menarik investor untuk menanamkan modalnya di Kabupaten Bogor, sehingga bisa menyerap tenaga kerja. Juga memeprjuangkan nasib guru honorer yang saat ini masih ada yang gajinya di bawah angka Rp500 ribu. Selain itu, juga memberikan pelayanan kesehatan yang memudahkan masyarakat serta meningkatkan infrastruktur jalan-jalan guna mendorong roda perekonomian warga Kabupaten Bogor.

Salah satu program pembangunan infrastruktur yakni kelanjutan pembangunan Jalur Puncak II yang akan terus dikawal hingga bisa menjadi solusi kemacetan di wilayah Puncak sekaligus melebarkan pertumbuhan ekonomi ke pelosok-pelosok.

“Ya insya allah empat hal itu menjadi visi-misi saya, karena Bogor ini cukup potensial. Apalagi kita berbatasan dengan DKI Jakarta, jadi perlu percepatan pembangunan,” tutupnya. []Admin




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *