Panaragan

Bogor Tempo Doeloe: Tata Ruang Bogor Dirancang Sesuai Etnis Eropa, China, Pribumi

BOGOR-KITA.com – Pembentukan karakter tata ruang Bogor banyak dipengaruhi oleh praktik penjualan tanah pada jaman van Imhoff ini. Van Imhoff sendiri membeli sebidang tanah Kampung Baru tersebut dan menamakannya Buitenzorg.
Seperti halnya kebanyakan kota-kota kolonial, pusat Kota Bogor merupakan konsentrasi dari 3 (tiga) nukleus etnis; Eropa, Cina, dan Pribumi.

Zona permukiman masyarakat Eropa ditandai dengan berbagai gedung-gedung pemerintahan dan fasilitasnya (sebagai civic center), permukiman-permukiman yang didominasi rumah-rumah vila, dan berbagai fasilitas umum dan bangunan-bangunan komersial (kantor-kantor, rumah sakit, sekolah, dan lain-lain).

Meskipun memiliki jumlah penduduk yang sangat kecil, zone Eropa menempati porsi lahan terbesar. Zone permukiman Eropa di Bogor dapat kita tandai mulai di sekeliling Kebun Raya Bogor, gedung-gedung institusi di sepanjang Jalan Ir. Juanda, Jalan A. Yani (untuk fungsi-fungsi perkantoran dan pemerintahan), hingga daerah Ciwaringin (ke arah Utara) dan daerah Taman Kencana (Timur) (untuk fungsi hunian).

Permukiman Eropa di bagian Utara tersebar dan terkelompok berdasarkan tingkatan ekonominya. Rumah-rumah Belanda bertipe besar dan luas untuk kaum elit banyak terdapat di tepi jalan-jalan utama, sedangkan rumah-rumah yang lebih kecil untuk tingkatan karyawan atau pengusaha biasa tersebar di jalan-jalan sekunder.

Meskipun banyak dari fisik rumah-rumah tersebut bertahan baik hingga kini, setelah 1942, kepemilikan mereka serentak berpindah dari tangan orang-orang Eropa ke orang-orang Indonesia (Pribumi maupun Tionghoa).

Masyarakat Tionghoa telah mengadakan hubungan intensif dengan kerajaan-kerajaan pedalaman Priangan sebelum Belanda berekspansi. Peninggalan sebuah altar pemujaan (shrine) yang bertahun 1678 yang terletak di delta Sungai Ciliwung (Pulo Pasar/ Pulau Parakan Baranangsiang/ Pulo Geulis terletak di sebelah timur dari pecinan yang sekarang) membuktikan bahwa masyarakat Tionghoa telah menetap di sana.

Peran masyarakat Tionghoa dalam pembentukan sebuah kota di Jawa (maupun Asia Tenggara pada umumnya) sebenarnya sangat penting, terutama karena mereka memainkan peranan sebagai perantara (distributor) dalam sistem perdagangan maupun sosial dalam struktur masyarakat kolonial (terutama pada abad ke-19).

Selain itu, sistem struktur perkotaan yang mereka kembangkan dalam lingkungan mereka sendiri telah begitu modern dengan (tentunya) tidak lepas dari hegemoni struktural yang diterapkan pemerintahan kolonial.

Pecinan Bogor terletak di penggal Jalan Suryakencana yang merupakan penggal Jalan Raya Pos yang berada di selatan Istana Bogor. Diawali oleh Klenteng Hok Tek Bio (berdiri 1867) dan Pasar Bogor (berdiri 1872), pecinan yang dipenuhi rapat oleh ruko-ruko (rumah-toko) memanjang ke arah Gunung Gede/ Pangrango sepanjang kira-kira 1,5 kilometer.

Dengan diapit oleh dua sungai (Ciliwung di timur, dan Cipakancilan di barat), struktur pecinan Bogor dibentuk oleh 3 jalan utama yang paralel, dengan Jalan Suryakencana sebagai jalan utamanya.

Dahulu jalan ini bernama Handelstraat atau Jalan Perniagaan yang menandakan fungsinya sebagai sentra ekonomi kota. Masyarakat Tionghoa yang juga terkotak-kotak dalam kelas sosial, menempati hunian sesuai dengan kelas mereka.
Golongan pedagang berkumpul di sekitar Pasar Bogor, sedangkan golongan bawah (kebanyakan peranakan) menghuni ruko-ruko sewa dan rumah-rumah petak di balik ruko-ruko.

Golongan atas atau elit (biasanya peranakan dengan pendidikan Belanda, opsir Belanda, profesional) cenderung tidak berdagang, dan menghuni bagian selatan pecinan. Rumah mereka biasanya sedikit banyak mencirikan gaya hidup mereka yang “kebarat-baratan”: menggunakan corak-corak yang biasa ada di bangunan-bangunan Belanda, ataupun menghuni rumah “tipe vila”

Berkembang akibat pertumbuhan ekonomi, pecinan mengalami banyak transformasi bentuk. Mulai dari perubahan fisik bangunan, hingga pemadatan hunian di kantong-kantong di balik ruko-ruko.
Terlebih setelah dihapuskannya wijkenstelsel (peraturan zone etnis) pada 1915, pembauran permukiman Tionghoa dan Pribumi semakin pesat di kawasan-kawasan kantong ini.

Karakter fisik pecinan Bogor sendiri memudar seiring dengan diberlakukannya diskriminasi oleh Pemerintah Orde Baru, yang secara umum juga dialami berbagai pecinan lain di Indonesia).

Peran institusi-institusi sosial budaya masyarakat Tionghoa memudar juga; seperti fisik Hok Tek Bio yang semakin tenggelam dengan keramaian dan penataan lingkungan pasar, begitu pula dengan dihapuskannya sekolah-sekolah Tionghoa, digantikan dengan toko-toko yang lebih meriah dan beragam.

Masyarakat Pribumi sebenarnya tidak memiliki konsentrasi area khusus seperti halnya masyarakat Eropa dan Cina. Tetapi karena absennya kekuasaan lokal di kawasan partikelir ini, meleluasakan pemerintah kolonial untuk mengembangkan daerah ini sesuai dengan keinginannya.

Demang Wiranata (1749-1758 ) mengajukan permohonan pada Gubernur Jenderal untuk membuka lahan di Sukahati (Empang, dahulu masih dalam pekarangan Istana Bogor). Dengan terletak rendah membelakangi Sungai Cisadane, daerah ini ditandai dengan alun-alun Empang yang pola penataannya mengikuti model alun-alun pada umumnya (dikelilingi Istana Residen dan masjid, dan ditanami dengan 5 pohon beringin), namun dengan aksis mengarah ke Istana Bogor. Kawasan ini kemudian berkembang sebagai konsentrasi permukiman Pribumi dan Arab (permukiman Arab ditandai dengan masjidnya sendiri). Kawasan ini juga tumbuh sebagai kawasan komersial dan perdagangan meski secara skala masih di bawah Jalan Suryakencana. [] Admin/dari berbagai sumber




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *