Bima_Arya

Bima Arya Sugiarto, Menggaungkan Bahasa Perubahan Sampai 2019

Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto

BOGOR-KITA.com – Sejak dilantik 7 April 2014,  Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto langsung injak pedal gas kebijakan, menggerakkan roda pemerintahan Kota Bogor menuju perubahan.

“Saya malu dengan beberapa stigma negative yang melekati Kota Bogor.  Ke depan, Kota Bogor akan menjadi kota hijau, kota dalam taman, kota ramah lingkungan,  ditopang perangkat IT yang memudahkan warga menjalani keseharian,” kata Bima Arya dalam percakapan denGan PAKAR, Bogor, peKan lalu.

Angkutan umum, tata ruang, pedagang kaki lima (PKL),  sampah, trotoar, dan lain sebagainya menjadi keseharian Bima. Pada saat bersamaan ia juga menggaungkan penataan mental pegawai negeri sipil (PNS).

Berbagai kendala menghadang, namun bukan Bima kalau mudah menyerah. “Penduduk Kota Bogor yang hampir 1,2 juta jiwa yang tersebar di 6 kecamatan dan 68 kelurahan harus dilayani, harus dinyamankan,” katanya.

Karena itu, imbuhnya, bahasa perubahan akan terus digaungkan sampai tahun 2019. Setiap hari, setiap bulan, setiap tahun, harus terjadi perubahan ke arah yang lebih baik.

Kendala masih menggelayut, tetapi optimisme juga terus tumbuh. Dari segi anggaran, tahun 2015 ini sudah mulai mengalami perubahan, untuk pertamakali APBD Kota Bogor menyundul tembus Rp2 triliun, dengan proporsi belanja langsung lebih besar dibanding belanja tidak langsung. Pada saat bersamaan, dicanangkan program penghematan secara signifikan pada kegiatan yang tidak produktif, seperti perjalanan dinas, kunjungan dinas, baju dinas dan lain sebagainya. “Semuanya dipangkas,” kata Bima.

Berbenah Sambil Membangun

Bima sepenuhnya menyadari kendala yang menghadangnya dalam menjalankan roda pembangunan Kota Bogor menuju perubahan yang disasar.

“Pertama memang kita berhadapan dengan kultur pegawai masa lalu yang berkembang menjadi kebiasaan. Sekarang konteknya sudah jauh berbeda, tetapi kultur atau prilaku lama itu masih sulit dihilangkan,” kata Bima. Pada saat bersamaan, ekspektasi atau harapan publik menuju terciptanya perubahan meningkat tajam. “Tidak pernah ekspektasi publik meningkat setinggi saat ini. Publik menaruh harapan besar Kota Bogor mengalami perubahan dan kemajuan signifikan dalam waktu cepat,” ucapnya.

Maka, sambil membenahi kendala yang menghadang, Bima terus menggerakkan roda membangun. Sejumlah program yang bersifat pendukung terus digagas dan diluncurkan melengkapi program yang sudah dibakukan. Tersebutlah program Sehari Tanpa Kendaraan, Rebo Nyunda atau Ngampret, Revitalisasi Underpass, Revitalisasi Kawasan Stasiun Bogor dan Sejuta Taman, Perda Pejalan Kaki, dan lain sebagainya. “Program pendukung, bersama program yang sudah dibakukan dalam program pembangunan jangka panjang, mengarah pada dua hal, memperbaiki kultur membangun infrastruktur,” kata Bima.

Memperbaiki atau membangun infrastruktur, contohnya membangun underpass, jembatan penyeberangan orang, taman dan infrastruktur lainnya. Sedangkan, program terkait membangun kultur adalah program Sehari Tanpa Kendaraan, Rebo Nyunda, dan lainnya itu. “Semuanya akan berjalan simultan,” katanya.

Namun demikian ada prioritas, target utama, program nomor satu, yakni pembenahan di bidang transportasi, mengatasai kemacetan. “Cetak biru transportasi Bogor sampai 2030 hampir rampung,” tandasnya seraya menjelasakan item-item yang akan dilakukan, termasuk kaitannya dengan tata ruang yang kait mengkait dengan kemacetan.

Mental PNS yang menjadi motor penggerak roda pembangunan Kota Bogor juga menjadi bagian perhatian Bima. Tentang hal ini, Bima menyetuhnya dengan kebijakan rotasi, mutasi dan promosi.

“Tujuan saya adalah menempatkan orang pada posisi yang tepat, lalu memberikan semangat dan motivasi,” bebernya.

Komunikasi dan kerjasama dengan DPRD Kota Bogor tak diabaikan.

Fase awalnya meningkatkan komunikasi dan kesepemahaman antara Pemkot Bogor dan DPRD. “Pemkot membutuhkan dewan untuk mengkritisi dan mengawasi setiap langkah pemkot. Saya optimis bersama teman-teman dewan yang semangatnya luar biasa, Kota Bogor bisa bergerak dan berlari menjemput perubahan,” tegas politisi PAN ini.

Wah…berat juga beban yang harus dipikul. Mana lebih enak menjadi pengamat ketimbang kepala daerah. “Lebih enak jadi pengamat. Karena pengamat itu tidak pernah salah, pengamat selalu benar. Pengamat itu banyak untungnya, secara financial untung, secara popularitas untung, termasuk pergaulan juga untung karena banyak penggemar. Sebaiknya, jadi Walikota itu banyak tekornya, rezeki juga tekor,  bahkan mungkin teman juga berkurang karena  banyak pro dan kontra. Tetapi karena ini sebuah perjuangan dan ibadah, maka saya jalani semuanya dengan ikhlas,” tutupnya.

Orang Bogor Habis

Ketika mulai cawe-cawe di Bogor setahun lebih sebelum pemilihan kepala daerah, tidak sedikit yang mempertanyakan ke-Bogor-an Bima Arya Sugiarto. Tak tahunya, Bima Arya adalah orang lama di Bogor. Bima bahkan bisa  disebut orang Bogor habis, karena mana ayah dan kakek, istri dan mertua juga orang Bogor.

Bima Arya, lahir di klinik dr Soekoyo, Paledang, Bogor 17 Desember 1972. Ia anak sulung dari tiga bersaudara. Pendidikan dasar hingga SMA  ditamatkan di Bogor, SD di SDN Polisi IV, SMP di SMPN 1, dan SMA di SMAN I Bogor.

Bima adalah putra dari  Toni Sugiarto, seorang perwira polisi. Ketika Bima dilahirkan,  ayahnya berpangkat kapten.  Ketika wafat pada tahun 1997 ayahnya masih bertugas sebagai anggota DPR RI dari fraksi ABRI dengan pangkat Brigadir Jendral. 

Semasa hidupnya Toni Sugiarto dikenal sebagai tokoh Bogor, pemimpin yang sangat merakyat dan luas pergaulannya di Kota Bogor. Toni Sugiarto bahkan tercatat sebagai tokoh Bogor yang banyak berkiprah di bidang organisasi kemasyarakatan, salah satunya di Paguyuban Bogoriensis yang ia dirikan beserta tokoh Bogor lainnya. Toni Sugiarto adalah Ketua Umum Paguyuban Bogoriensis tahun 1993-1997.

Walikota Bogor Diani Budiarto yang ketika menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata sempat pula terlibat dalam Paguyuban Bogoriensis. Semangat Paguyuban Bogoriensis inilah yang 14 tahun kemudian dilanjutkan oleh Bima Arya menjadi Paguyuban Bogor yang bergerak di bidang sosial ekonomi, budaya, dan pendidikan.

Walikota Bogor Diani Budiarto meresmikan berdirinya Paguyuban Bogor pada tanggal 17 Desember 2011 yang didukung oleh sejumlah tokoh senior Bogor  seperti  Dewi Pandji, H Karna Sapoetra, H Atjep Zainal Arifin, H Koerman Sabur dan dimotori para aktivis muda Bogor.

Ibunda Bima Arya,  Melinda Susilarini adalah juga figur yang ke-Bogor-annya sangat kental.  Melinda adalah Juara kedua Ratu Pariwisata Karesidenan Bogor. Setelah itu menjadi juara kedua Ratu Pariwisata Jabar, dan pada tahun 1971 mewakili Bogor di pentas nasional dan terpilih menjadi juara kedua Ratu Indonesia.

Kakek Bima Arya,  Barna Muhammad (dari pihak ibu) adalah Kepala Rumah Tangga Istana Bogor pada zaman Presiden Soekarno. Sementara R. Soekojo (kakek Bima dari pihak ayah) adalah pensiunan pegawai kehutanan yang ketika itu tinggal di Gang Nurkas, Paledang Bogor.

Bima menikah dengan Yane Ardian, seorang gadis Bogor pada 28 Desember 2002. Yane  lahir di Panaragan Bogor.  Keluarga Yane tinggal di Gang Aut Bogor. Ayah Yane almarhum Ardi Rahman (Tan Ki Hoan) semasa hidupnya adalah pengusaha angkot. Bima dan Yane kini dikaruniai dua orang anak, Kinaura Maisha (Kin), dan Kenatra Mahesha (Ken). [] Harian PAKAR/Admin




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *