Ajib Rosidi, Tentang Sosok Manusia Sunda

Ajib Rosidi

Oleh Panitia Seminar Pembangunan Berbasis Budaya Sunda ini melalui suratnya bulan Méi 2005 saya diminta untuk membawakan makalah bertema “Mencari Sosok Manusia Sunda (Sebuah Refleksi Filosofis)”, tetapi dalam “kisi-kisi penulisan makalah” yang dilampirkan dalam surat itu saya diminta untuk mendiskusikan tentang “wacana manusia” Sunda terutama berkaitan dengan kecenderungan adanya perkawinan campur antar-etnis yang berimplikasi pada akulturasi budaya.

Sebagai orang awam yang tak bergelar yang tak pernah mengenal pendidikan tinggi, saya menjadi bingung, padahal surat dan rumusan itu ditulis oleh orang-orang yang di depan dan di belakang namanya berderet berbagai gelar. Pertanyaan yang timbul pada diri saya ialah apanyakah yang filosofis dari hasil pernikahan campuran antar etnis itu? Padahal jawaban atas pertanyaan itulah yang akan menjawab pertanyaan yang ditulis oleh Panitia dalam “kisi-kisi penulisan makalah”nya, yaitu (1) Bagaimana percampuran nilai-nilai budaya sebagai konsekuensi dari perkawinan campur tersebut terhadap daya tahan budaya Sunda? (2) Bagaimana upaya menyikapi kondisi tersebut untuk mendukung pembangunan berbasis budaya Sunda baik oleh Pemda maupun oleh masyarakat?

Terus terang saja sebagai bukan ahli sosiologi ataupun antropologi dan tidak tahu tentang sudah adanya penelitian mengenai perkawinan campur antar etnis orang Sunda, maka saya merasa tidak mampu memenuhi harapan Panitia untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Hal itu menyebabkan saya menjadi sadar bahwa Panitia telah salah memilih saya untuk berbicara dalam seminar ini. Sebaiknya saya kembalikan saja kepercayaan Panitia untuk berbicara dalam seminar ini, agar Panitia mencari orang lain yang berbicara di sini sesuai dengan maksud yang tertulis dalam “kisi-kisi penulisan makalah”. Namun saya juga tahu bahwa waktu sudah sangat mépét. Saya baru sempat menyiapkan diri untuk menulis makalah ini tgl. 21 Juni karena surat Panitia baru saya terima ketika saya singgah di Bandung dalam perjalanan ke Jakarta untuk menghadiri acara “Sehari bersama Achdiat K. Mihardja” tg. 7 Juni 2005 dan acara penyerahan hadiah “Rancagé” 2005 tg. 14 Juni 2005. Selesai acara tersebut saya sibuk dengan tamu dari Malaysia (Tan Sri Prof. Dr. Dato’ Haji Ismail Husséin) yang sengaja menghadiri acara penyerahan hadiah “Rancagé” yang dilanjutkan dengan kunjungan ke rumah saya di Pabélan sampai dengan tg. 20 Juni. Semua kesibukan itu sudah dipersiapkan sejak lama, sehingga tidak dapat dibatalkan hanya karena saya mendadak diminta menulis makalah oleh Panitia Seminar yang dari alamat yang ditulisnya dalam surat tidak tahu di mana saya tinggal (dalam surat hanya disebut “di tempat”).

Pertimbangan bahwa kalau saya mengembalikan kepercayaan Panitia pada tg. 21 Juni sedangkan seminar akan dilangsungkan tg. 25 Juni, niscaya akan timbul kesulitan untuk mencari orang yang mau menulis makalah dalam waktu yang sangat mépét, sedangkan saya sudah kepalang menyatakan bersedia memenuhi permintaan Panitia, menyebabkan saya memilih untuk memenuhi undangan Panitia mengemukakan makalah dengan tema “Mencari Sosok Manusia Sunda (Sebuah Refleksi Filosofis)” tanpa menghiraukan “kisi-kisi penulisan makalah”. Artinya saya akan mengemukakan uraian tentang judul tersebut sesuai dengan penafsiran saya sendiri sebagai bukan orang sekolahan. Mudah-mudahan akan ada manfaatnya, walaupun mungkin tidak akan menenuhi pesan sponsor “mendukung pembangunan yang berbasis budaya Sunda baik oleh Pemda maupun oleh masyarakat”.

Manusia Sunda: siapakah tokoh idealnya?

Kalau kita hendak mencari sosok manusia suatu komunitas, maka terlebih dahulu baik kalau kita teliti, siapakah yang menjadi tokoh manusia ideal kelompok tersebut. Dalam hal mencari sosok manusia Sunda, maka yang harus kita cari ialah siapakah tokoh ideal orang Sunda?

Jawaban terhadap pertanyaan tersebut bisa banyak – tergantung kepada pilihan masing-masing orang. Karena kebanyakan orang Sunda memeluk agama Islam, niscaya tokoh idealnya adalah junjungannya, Muhammad Rasulullah dan tokoh-tokoh lain seperti Umar bin Khattab, dll. seperti yang biasa dianggap sebagai manusia ideal oleh umumnya kaum muslimin-muslimah di mana saja di dunia. Namun yang saya maksudkan di sini adalah tokoh idéal yang bertalian dengan kesundaan. Menurut pengamatan saya, tokoh ideal kebanyakan orang Sunda niscaya Prabu Siliwangi. Tokoh ini sangat terkenal dalam leluri, legenda, carita pantun Sunda dll., namun para ahli sejarah tidak berhasil menemukannya dalam sumber-sumber sejarah seperti prasasti, sehingga dianggap hanya sebagai tokoh sastera saja. Telah ada yang mencoba mengidentifikasi tokoh sastera ini dengan data-data sejarah yang sudah ditemukan, antaranya Moh. Amir Sutaarga melalui karyanya Prabu Siliwangi (Duta Rakjat, Bandung, 1965) yang menyimpulkan bahwa tokoh Prabu Siliwangi itu adalah Sri Baduga Maharaja; yang disayangkan oleh Saléh Danasasmita dalam bukunya Nyukcruk Sajarah Pakuan Pajajaran jeung Prabu Siliwangi (Kiblat Buku Utama, Bandung, 2003) argumentasinya kurang kuat karena lebih berdasarkan filologi bukan berdasarkan ilmu sejarah, meskipun dia sendiri sependapat bahwa Prabu Siliwangi adalah Sri Baduga Maharaja yang menjadi susuhunan Sunda di Pakuan tahun 1482 — 1521. Namun demikian data-data sejarah tentang Sri Baduga Maharaja sangatlah terbatas.

Sementara itu Prabu Siliwangi yang menjadi tokoh ideal kebanyakan orang Sunda ialah raja Pajajaran terakhir, atau nama umum raja Pajajaran sejak awal sampai akhir, konon dari I sampai VII, karena mereka beranggapan bahwa nama raja Pajajaran mempergunakanan nama umum Siliwangi yang dibedakan hanya dengan nomer saja. Tokoh ideal ini bukan tokoh sejarah. Bahkan nama kerajaan Pajajaran pun tidak terdapat dalam sumber-sumber sejarah – hanya terdapat dalam leluri dan carita pantun saja. Menurut para ahli, mungkin dikelirukan dengan nama ibukota Kerajaan Sunda yang disebut Pakuan Pajajaran.

Prabu Siliwangi sebagai tokoh ideal orang Sunda, adalah raja yang adil palamarta, welas asih, sakti, bijaksana, punya pandangan jauh ke depan bak ahli ramal, yang ketika kerajaannya dikalahkan oleh pasukan Islam raib dengan jasadnya (ngahiang), karena itu sekarang pun dipercaya masih hidup serta selalu menjaga dan membimbing (ngaping ngajaring) anak-cucunya orang Sunda, menjaganya yang pada waktu tertentu kalau perlu menjelma sebagai harimau, memberikan wangsit untuk menjadi pedoman anak cucunya dalam menempuh kehidupan, dan semacamnya. Kepercayaan demikian, bukan hanya diyakini oleh orang-orang sembarangan yang tidak mengenyam pendidikan tinggi, melainkan juga oleh tokoh-tokoh masyarakat yang bergelar serta aktif di lingkungan universitas. Orang seperti Acil Bimbo (Darmawan Hardjakusumah SH) meyakini hal itu seperti sering dia kemukakan dalam ceramah-ceramah atau pidato radionya. Drs. Hidayat Suryalaga juga saya kira orang yang meyakini kebenaran tentang Prabu Siliwangi seperti yang saya uraikan itu.

Uraian yang paling representatif mengenai keyakinan akan keagungan, kehebatan, kesaktian Prabu Siliwangi, kita dapati misalnya dalam buku Sangkakala Padjadjaran: Upaya Awal Mengeja dan Menyingkap Makna Rumpaka yang ditulis oleh Ir. H. Setia Hidayat dan N. Syamsuddin Ch. Haesy (Bina Rena Pariwara, Bandung, 2004). Hanya berdasarkan teks rumpaka guguritan yang biasa dinyanyikan dalam Tembang Sunda Cianjuran, kedua penulis itu menguraikan tentang Pajajaran yang konon sekarang pun masih ada karena Pajajaran tak pernah sirna. Dengan mengutip “Spiritualis” yang anonim, dikemukakannya pendapat bahwa “Padjadjaran sirna justru terjadi di abad XX bersamaan dengan meletusnya Gunung Galunggung” dan itu pun masih meninggalkan artefak-artefak yang belum ditemukan yang baru akan musna kalau Gunung Guntur meletus (h. 96). Diyakininya bahwa suatu ketika Padjadjaran akan bangkit kembali. Dan tanpa menunjukkan bukti dan data yang jelas, dikemukakannya pula bahwa “telah hadir dan tumbuh generasi baru yang mapu menunjukkan identitas dan jati diri Padjadjaran”. Dan sebagai contoh dikemukakan bahwa “harumnya pasukan Siliwangi dalam lingkungan TNI, sebagai satuan pasukan darat yang unggul hingga kini” (h. 100). Agaknya kedua penulis itu tidak melihat bahwa pada masa revolusi sampai tahun-tahun sekitar 1965 memang pasukan Siliwangi unggul dan dihormati, tetapi pada awal Orde Baru, pamor Siliwangi telah dicéos oleh Suharto tanpa perlawanan sama sekali.

Oleh kedua penulis tersebut, dipercaya bahwa “pada setiap masa selalu akan hadir Prabu Siliwangi yang memiliki kualifikasi unggul sabagai pemandu arah perjalanan bangsa memasuki misteri masa depan” dan “nilai-nilai relijiusitas, kebangsaan dan kerakyatan yang diwariskan Prabu Siliwangi akan menjadi pedoman memasuki jaman baru” hanya berdasarkan satu baris (padalisan) guguritan yang berbunyi “geura gedé jeung pinanggih” (h. 100).

Seperti pernah saya katakan, imajinasi tentang kehebatan dan keagungan Prabu Siliwangi yang diuraikan oleh Ir. H. Setia Hidayat dan N. Syamsuddin Ch. Haesy ini semata-mata berdasarkan rumpaka guguritan yang biasa dinyanyikan dalam Tembang Sunda Cianjuran, tanpa memberitahukan dari mana rumpaka itu diperoleh, siapa yang menciptakannya dan kapan ditulisnya.

Siapa pun yang menyusun rumpaka itu, jelas bahwa dia disusun sesudah Tatar Sunda berada dalam alam jajahan. Artinya setelah orang Sunda dijajah. Mengapa? Karena Tembang Sunda Cianjuran yang merupakan perkembangan dari pengaruh tembang Jawa dikenal dan digemari oleh orang Sunda setelah orang Sunda dijajah Jawa, yaitu pada masa Mataram diperintah oleh Sultan Agung (1613 – 1645). Para bupati Sunda yang setiap tahun harus menghaturkan upeti ke Mataram diharuskan tinggal di sana (disandera!) selama beberapa bulan dan selama itu mereka mempelajari kebudayaan dan kesenian Jawa yang ketika mereka sudah kembali ke tempat asalnya diajarkan kepada lingkungannya. Tembang sebagai salah satu kesenian yang mereka pelajari diperkembangkan juga di daerahnya masing-masing dengan memasukkan juga unsur-unsur yang terdapat di daerahnya. Yang paling berkembang memang di Cianjur, sehingga nama Tembang Cianjuran sering diartikan sebagai sinonim Tembang Sunda. Memerlukan waktu yang lama sehingga tembang Cianjuran menemukan bentuknya seperti yang diperkembangkan oleh Dalem Wiratanudatar I (1776 – 1813) dan terutama oleh Dalem Pancaniti (1834 – 1862) ketika unsur-unsur pantun dan degung Sunda tampil dominan. Dalam perjalanan sejarah terbukti bahwa tembang sebagai kesenian terus-menerus mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan masyakarat dan manusianya. Sampai sekarang pun kesenian Tembang Sunda masih hidup.

Saya kemukakan catatan sejarah itu untuk menunjukkan bahwa baik lagu maupun rumpaka guguritan yang dijadikan teks dalam tembang Cianjuran selalu berubah dan bertambah. Sayang sampai sekarang tidak ada penelitian yang dilakukan untuk menyelidiki tentang perubahan yang terjadi dalam dunia Tembang Sunda Cianjuran baik lagunya maupun guguritan rumpakanya.

Dengan mengemukakan hal itu, saya ingin menunjukkan bahwa rumpaka yang dijadikan dasar uraian imajinatif oleh Ir. H. Setia Hidayat dan N. Syamsuddin Ch. Haesy untuk mengagungkan Pajajaran dan Siliwangi itu masih harus diuji otentisitasnya. Karena tidak mustahil rumpaka itu buatan baru-baru ini saja. Dan kalaupun terbukti memang berasal dari masa awal Tembang Cianjuran, mungkin pada abad ke-18 atau ke-19, tetap saja hasil ciptaan orang Sunda yang terjajah yang membayangkan masa lalunya sebagai sesuatu yang indah-ideal. Hal itu digunakan sebagai pelarian dari kenyataan yang berlainan sekali dengan impian yang indah itu. Bahwa tembang Cianjuran adalah ekspresi penuh rindu akan masa silam yang indah-jaya yang berlainan dengan kenyataan yang dihadapi, dapat kita tangkap dari melodinya yang melankolik mendayu-dayu. Tembang Sunda adalah ekspresi orang yang kehilangan dan mendambakan yang hilang itu agar kembali. Memang tidak merengek-rengek, tapi tidak ada usaha untuk merebut yang sudah hilang itu – kalau perlu dengan paksa.

Seperti pernah saya singgung, ketika tembang Sunda berkembang di Cianjur, yaitu pada abad ke-18 dan ke-19, Tatar Sunda Sunda sudah dua setengah atau tiga abad dijajah, pertama oleh Mataram, kemudian (pertengahan abad ke-18) oleh Belanda yang menerimanya sebagai upah membantu menyelesaikan perang saudara di Mataram dalam dua tahap, tahun 1677 dan 1705. Kalau Prabu Siliwangi yang sering dinyanyikan dalam tembang itu memang Sri Baduga Maharaja, maka ada jarak kl. tiga setengah abad dari jaman Prabu Siliwangi dengan masa Tembang Sunda berkembang. Dan tiga setengah abad yang penuh dengan kehinaan sebagai bangsa terjajah.

Harus berani melihat realitas

Begitu sempurna tokoh Prabu Siliwangi itu dilukiskan oleh kedua penulis buku Sangkakala Padjadjaran, sehingga kita jadi tahu bahwa tidak ada manusia Sunda yang menyejarah yang dapat dibandingkan dengan baginda. Tetapi apakah apa yang dilukiskan oleh kedua penulis tersebut merupakan kebenaran faktual? Sulit diterima, karena tidak ada bukti otentik yang mendukungnya. Apa yang dilukiskan oleh keduanya hanyalah hasil imajinasi berdasarkan data-data fiktif belaka. Barangkali maksudnya untuk membuat orang Sunda punya percaya diri kalau diberitahu betapa hebat leluhurnya dahulu.

Tapi memberikan gambaran yang tidak realistis niscaya mempunyai implikasi-implikasi yang tidak diharapkan pula. Manusia Sunda masa kini harus sadar bahwa yang mereka hadapi dan harus bangun bukanlah melanjutkan Kerajaan Pajajaran, yang secara historis sudah dikalahkan oleh balatentara Islam pada abad ke-16. Pembangunan yang harus dilakukan sekarang bukankah membangun Kerajaan Pajajaran, melainkan membangun bangsa dan negara Indonesia yang demokratis sebagai konsekuensi sumpah para pemuda Sunda pendiri bangsa yang ikut serta dalam Sumpah Pemuda pada tahun 1928, dan ikut serta dalam memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dan turut serta mempertahankan kedaulatannya dari serbuan bangsa asing yang hendak menjajah kembali. Walaupun orang Sunda sering mengatakan bahwa mereka adalah “seuweu-siwi Siliwangi”, tetapi secara genealogis hal itu bisa dipertanyakan. Lagipula dengan menyatukan diri dalam negara dan bangsa Indonesia, orang Sunda ikut serta membangun bangsa dan negara baru yang demokratis, bukan membangun Kerajaan Pajajaran, seperti juga seharusnya orang Jawa jangan berpretensi melanjutkan Kerajaan Majapahit atau Mataram – betapa besar pun kerajaan itu dalam angan-angan mereka.

Kalau orang Sunda terus menerus diajak mimpi dengan mengimajinasikan keagungan dan keunggulan tokoh Prabu Siliwangi atau Pajajaran di masa silam, artinya kita terus menerus berusaha ngupahan manéh untuk melupakan realitas yang kita hadapi secara kongkrit. Ngupahan manéh kalau terus-menerus dilakukan tidak akan bedanya dengan ngabobodo manéh. Kita akan tertipu oleh ilusi seakan-akan kita adalah bangsa besar yang dijaga oleh nenek-moyang kita dari ancaman yang membahayakan hidup kita. Manusia Sunda yang hidupnya berdasarkan ilusi, tidak akan sampai pada prestasi nyata dalam hidup, karena tidak melihat dan tidak menyadari realitas yang dihadapi.

Janganlah kita terlalu mudah percaya kepada uga, wangsit atau apapun namanya, apalagi kalau tak jelas sumbernya, sedangkan kalau sumbernya itu orang yang menyebut dirinya atau disebut ”Spiritualis” atau “Orang tua” atau apa pun, harus kita terima dengan kritis. Jangankan orang yang hidup berabad-abad yang lampau, mereka yang mengalami sendiri jaman yang kita jalani ini pun tidak semuanya memahami situasi yang dihadapinya. Kalau kita sendiri merasa bingung dalam membaca jaman yang kita hadapi, bagaimana orang-orang tua – apalagi kalau berasal dari masa lampau – akan dapat memahaminya? Tidak ada referensi yang menunjukkan bahwa baik “Spritualis” maupun “Orang tua” yang dijadikan sumber oleh kedua penulis itu lebih memahami jaman dan situasinya daripada kita sendiri.

Tidak ada salahnya kita berbangga dengan tokoh seperti Prabu Siliwangi, namun janganlah tokoh itu diselimuti dengan berbagai khayalan agar sesuai dengan keinginan dan imajinasi kita sehingga menjadi tokoh ideal yang sempurna. Kita tidak akan sampai ke mana-mana dalam menghadapi tantangan global yang kian deras kalau bertumpu pada tokoh khayalan demikian.

Sosok manusia Sunda yang kita perlukan ialah sosok yang realistis, yang dapat menyadarkan kita akan kondisi nyata yang kita hadapi. Dalam melihat tokoh Prabu Siliwangi misalnya kita harus berpijak pada data-data sejarah yang ada. Harus kita akui bahwa data-data sejarah Sunda sangatlah minim. Belakangan memang ditemukan peninggalan-peninggalan sejarah yang akan penting artinya bagi merekonstruksi sejarah Sunda, namun apa yang sudah kita peroleh belumlah memadai. Data-data sejarah dari masa Sri Baduga Maharaja – kalaulah benar bagindalah Prabu Siliwangi – sangat terbatas. Sumber-sumber sejarah seperti prasasti (Batutulis) hanya menyampaikan bahwa Sri Baduga pernah dinobatkan dua kali, sekali dengan nama Prabu Déwataprana, yang kedua dengan nama Sri Baduga Maharaja, menjadi ratu di Pakuan Pajajaran.

Sosok Prabu Siliwangi dalam alam pikiran orang Sunda lebih merupakan mitos yang menjadi pelarian dari ketidakberdayaannya sendiri dalam menghadapi kehidupan. Maka Prabu Siliwangi dijadikan tumpuan harapan untuk menyelamatkan ”anak cucunya” orang Sunda dari keterpurukannya masa kini. Makin rendah dan hina kedudukan orang Sunda dalam masyarakat, kian diperindah gambaran tentang Prabu Siliwangi (dan kerajaan Pajajaran) dalam imajinasi kita, sehingga kita tidak melihat kenyataan-kenyataan yang sekarang kita hadapi, antaranya sebagai sukubangsa di Indonesia yang jumlahnya kedua setelah Jawa, sekarang orang Sunda tidak memperlihatkan prestasi yang membanggakan dalam berbagai bidang: tidak dalam politik, tidak dalam perekonomian, tidak dalam ilmu pengetahuan, tidak dalam pemerintahan, tidak dalam bidang kemiliteran. Hanya sedikit menonjol dalam bidang kesenian, terutama senilukis, akting dan nyanyi. Dan mungkin dalam hal korupsi berjamaah.

Prestasi sukubangsa Sunda dalam percaturan nasional, kalah oleh sukubangsa Batak yang jumlahnya jauh lebih sedikit – apalagi oleh sukubangsa Jawa! Kenyataan tersebut begitu telanjang sehingga siapa pun akan melihatnya, asal pikirannya tidak dipenuhi oleh mitos tentang kebesaran masalalu atau keagungan kebudayaan sendiri yang hanya meninabobokan karena tak pernah diperbandingkan dengan yang lain.

Dapatlah dilakukan penelitian secara ilmiah, mengapa hal seperti itu sampai terjadi. Apakah kebudayaan Sunda yang lemah, misalnya karena orang Sunda selalu bersikap mendahulukan orang lain? Tapi tidak mungkinkah sikap demikian itu hanya menunjukkan bahwa orang Sunda memang tidak mampu bersaing? Dalam hal demikian kita harus berani menghadapi kenyataan sebenarnya, jangan cepat berlindung dalam alasan “daék éléh sungkan meunang” yang dianggap sebagai kebijaksanaan orang yang berjiwa luhur. Kenyataan membuktikan bahwa dalam jaman globalisasi kita harus menunjukkan bahwa kita mampu bersaing, bahwa kita mempunyai rasa tanggungjawab akan haridepan bangsa dan dengan demikian kita berani memikul tanggungjawab yang dipikulkan oleh setiap kedudukan.

Nilai-nilai budaya Sunda dalam pembangunan daerah

Berbicara tentang pembangunan, kita dihadapkan kepada pertanyaan mendasar yang jarang dibahas, ialah: apakah yang hendak kita bangun? Selama ini pembangunan dikomando dari atas tanpa mengikutsertakan rakyat yang diajak membangun. Tidak pernah mereka ditanya apakah mereka setuju dengan tujuan dan cara-cara pembangunan yang sudah ditetapkan dari atas itu, jangankan pula ditanya apa yang mereka inginkan. Maka jangan heran kalau di kalangan rakyat timbul sikap tak peduli – sikap apatis, bahkan tidak mustahil sikap antipati.

Apakah Prabu Siliwangi waktu baginda menjadi raja Pajajaran memperhatikan keinginan rakyat? Kita tidak tahu. Tak ada data mengenai hal itu. Namun kita tahu bahwa pada masa baginda memerintah (1482—1521) mulai berkembang agama Islam. Baginda tidak melarang, melainkan memberinya kebebasan untuk berkembang. Bahkan baginda pun mempunyai isteri yang memeluk agama Islam, yaitu Nyi Subanglarang. Hal itu menunjukkan bahwa baginda memberikan kebebasan kepada rakyatnya untuk memeluk agama atau kepercayaan apa saja yang sesuai dengan keyakinan masing-masing. Sedangkan pada masa kita, pernah agama yang boleh dipeluk oleh rakyat dibatasi hanya lima saja (Islam, Katolik, Kristen, Buda, Hindu), di luar yang lima tidak boleh. Dengan demikian Prabu Siliwangi bersikap lebih terbuka. Tapi kita juga bisa mengatakan bahwa Prabu Siliwangi dengan begitu menggali kuburannya sendiri, karena bukankah Pajajaran akhirnya digempur oleh pasukan Islam?

Sikap Sri Baduga Maharaja memberi kebebasan kepada rakyatnya untuk memeluk agama sesuai dengan keyakinan masing-masing menunjukkan sikap terbuka yang kalau memakai istilah sekarang demokratis. Dari kasus ini barangkali kita juga bisa menyimpulkan bahwa Sri Baduga Maharaja dalam urusan lain pun bersikap seperti itu. Jadi tidak heran kalau baginda dianggap sebagai raja yang bijaksana dan adil palamarta. Bahwa kemudian ternyata Kerajaan Sunda dikalahkan oleh pasukan Islam, bukanlah kekeliruan baginda dalam menarik garis kebijaksanaan, melainkan karena kelemahan raja-raja Sunda setelah beliau.

Apakah sikap terbuka dan bijaksana seperti itu menjadi sifat orang Sunda dalam hal ini mereka yang menjadi pejabat pada masa kini? Saya tidak pernah meneliti hal itu, dan sepanjang pengetahuan saya belum ada orang yang melakukan penelitian mengenai hal tersebut, tetapi kalau nanti diadakan penelitian jangan heran kalau jawabnya negatif. Mengapa? Karena setelah kerajaan Sunda tenggelam, tidak ada kerajaan besar yang meliputi seluruh Tatar Sunda seperti Kerajaan Sunda. Yang muncul adalah penguasa-penguasa di berbagai daérah kabupaten, yang pada perempat pertama abad ke-17 dengan mudah ditaklukkan oleh balatentara Mataram. Dan sejak itu Tatar Sunda menjadi daerah jajahan. Pertama oleh Mataram kemudian oleh Belanda selama lebih dari empat abad. Dengan demikian orang Sunda adalah yang paling lama dijajah di Indonesia. Sebagai bangsa jajahan, mentalitas kaum elit yang diangkat oleh penjajah sebagai perpanjangan tangannya, memperlihatkan sikap “sumuhun dawuh” dan “sadaya-daya”, karena yang dipentingkannya ialah mempertahankan jabatan.

Mentalitas demikian masih kita lihat setelah negara Republik Indonesia berdiri, terutama pada masa Orde Lama di bawah Presiden Sukarno (1959—1966) dan pada masa Orde Baru di bawah Presiden Suharto (1966—1998). Bahkan setelah reformasi pun mentalitas demikian masih melekat dengan kuatnya. Para pejabat di Jawa Barat umumnya selalu lebih memperhatikan apa keinginan para pejabat di Pusat (Jakarta) yang menjadi atasannya daripada mendengarkan suara rakyatnya.

Budaya dasar orang Sunda adalah agraris, lebih khusus lagi: petani ladang atau huma yang selalu berpindah tempat kalau lahan yang digarapnya sudah tidak subur lagi. Orang Sunda baru berkenalan dengan budaya sawah pada abad ke-19 ketika penjajah Belanda hendak meningkatkan produktivitas pertanian dan hendak mengikat orang Sunda agar menetap. Berladang dengan selalu berpindah tempat bukan saja merusak hutan, melainkan terutama menyusahkan pemerintah yang hendak memanfaatkan tenaganya dan hendak memungut pajak dll. Budaya ladang menyebabkan orang Sunda lebih individualistis daripada orang Jawa yang berbudaya sawah. Orang yang berladang lebih banyak hidup di ladang daripada di kampungnya, dan ladang yang tempatnya berjauhan menyebabkan komunikasi antar mereka sangat kurang. Karena itu salah satu sifat orang Sunda adalah individualistis. Meskipun sudah hidup menetap, bahkan tinggal di kota, sifat individualistis itu tetap menonjol. Berlainan dengan orang Jawa, orang Sunda lebih sulit diatur. Lebih sulit dibuat seragam atau dibuat bersatu.

Pada dasarnya manusia yang individualistis itu kreatif, namun setelah berabad-abad hidup dalam tekanan kaum elit yang memegang kekuasaan, baik sebagai perpanjangan kekuasaan penjajah, maupun sebagai perpanjangan kekuasaan kaum elit di pemerintah pusat, kreativitasnya tidaklah berkembang dengan wajar.

Maka dalam usaha pembangunan, kita kembali kepada pertanyaan yang sudah saya kemukakan, yaitu: apanyakah yang hendak dibangun? Karena rakyat tidak pernah ditanya maka komando pembangunan yang datang dari atas, sering tidak sesuai dengan keinginan dan harapan rakyat. Karena takut terhadap yang memegang kekuasaan, maka di kalangan rakyat tumbuh sikap “heurin ku letah”, sehingga rakyat tidak terbiasa mengemukakan pikiran dan pendapat, dan karena itu tidak tumbuh sikap berani menuntut hak yang menjadi miliknya. Yaitu sikap apatis. Akibatnya pembangunan tidak berhasil dengan baik.

Sikap kaum elit yang menduduki jabatan dalam pemerintahan main komando karena merasa berkuasa sudah menjadi budaya yang mentradisi dalam masyarakat Sunda. Demikian juga sikap “heurin ku letah”, bahkan “sadaya-daya kumaha kersa” telah menjadi budaya yang mentradisi di kalangan rakyat. Maka “revitalisasi dan aplikasi nilai-nilai budaya Sunda dalam pembangunan daerah” bisa diartikan menghidupkan dan mengembangkan jiwa feodal, karena feodalismelah yang sampai sekarang menjadi anutan orang Sunda dalam bermasyarakat. Tentu saja bukan pembangunan demikian yang kita kehendaki. Justru kita harus mengikis habis jiwa feodal yang terdapat dalam budaya kita kalau kita hendak membangun bangsa dan negara yang demokratis.

Maka pembangunan (daerah) harus mengutamakan pembangunan manusia, yaitu merobah mentalittas feodal menjadi mentalitas demokratis. Pembangunan manusia tidaklah dapat dilaksanakan melalui indoktrinasi seperti yang dilakukan selama ini. Pertama-tama, rakyat harus diajak serta menentukan tujuan pembangunan, sehingga mereka tahu untuk apa mereka bekerja. Artinya harus dihidupkan suasana agar rakyat berani mengemukakan pendapat dan menuntut haknya. Tradisi dialog, mendengarkan kehendak rakyat untuk menetapkan tujuan pembangunan, tidak ada dalam kehidupan rakyat di Jawa Barat. Dengan demikian, maka pihak elit politik dan para pejabat harus merobah sikap dan pendekatannya yang mau memerintah dan memaksa karena merasa diri berkuasa, dengan sikap yang santun dan terbuka.

Jadi kedua belah fihak, rakyat yang menerima perintah dan kaum elit yang menduduki jabatan dalam pemerintahan harus bersama-sama merobah sikap dan mentalitas yang feodalistis selama ini. Saya kira hal itu bukan pekerjaan mudah yang tidak mustahil membutuhkan waktu beberapa generasi. Itu pun kalau tidak ada kortsluiting seperti yang terjadi pada tahun 1959 ketika Presiden Sukarno dengan dukungan Angkatan Darat (Jenderal A.H. Nasution) membunuh semangat demokrasi yang sudah mulai berkembang dalam masyarakat bangsa muda yang baru merdeka dengan mengangkat dirinya sebagai formatur kabinet dan mengeluarkan Dekrit Kembali ke Undang-undang Dasar 45, membubarkan Konstituante dan Parlemen pilihan rakyat.

Sosok Manusia Sunda yang kita perlukan dalam pembangunan ialah manusia kreatif yang berani mengemukakan keyakinan dan menuntut haknya di pihak rakyat dan manusia yang menganggap jabatan yang dipercayakan kepadanya bukan sebagai alat untuk memperlihatkan kekuasaan secara sewenang-wenang, melainkan sebagai amanat yang harus dilaksanakan penuh pengabdian pada masyarakat di pihak elit politik dan elit pelaksana administratif.

Pabélan, 22 Juni, 2005.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *